Sekilas, semua seakan lepas
tak ada yang tahu jikalau masa lalu
sekedar selimut hangat membisu
sekedar kau, diriku dan siapapun
menggema dari satu lembar dinding
rasuki rumah terakhir yang berbisik
gapai lembut dedaunan di esok pagi
di saat bangun tangan pilu ini
mencerabut pikiran penuh rasa ketakutan
jikalau mimpi tetap indah, biarlah
sayang, sampai sekarang ribuan pasang
sepatu tak cukup lagi tuk membungkus
jemariku. Ia belum bisa menebus harapmu
meski luka, meski buta
bayang-bayang tak pernah lupa siapa pemiliknya
bukan ingin cahaya terkungkung tanpa henti
meraba pelan-pelan, adakah sesuatu tertinggal
ketika ia tak bisa memilih lahir
tapi memilih tuk tinggal
Comments
Post a Comment