Satu sore selepas hujan. Sengaja kuberteduh dibalik ribuan awan yang setia teteskan hujan.
Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam.
Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar.
Di sudut pintu rumah aku terdiam.
Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu.
Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya.
Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir.
Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang.
Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun
Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu.
Tapi aku terlalu malu tuk akui itu.
Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang.
Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.
Melihat, akan kemanakah pelangi taburkan warnanya. Hilangkan kebosanan akan putih dan hitam.
Segelas jeruk hangat buatan juga tiga batang tembakau bau terbakar.
Di sudut pintu rumah aku terdiam.
Mengulang kembali cericit burung pipit. Menari-nari tanpa henti, katamu.
Sengaja ia melompat dari satu telinga ke telinga lainnya.
Garis-garis hujan juga tak lupa mampir tuk mengalir.
Sembunyikan tangis yang pelan-pelan tertuang. Dunia terlalu gelap terkadang.
Terbayang oleh besarnya akar pepohonan besar, juga ribuan helai daun
Terjatuh di atas tanah. Gugurkan usia yang telah layu.
Tapi aku terlalu malu tuk akui itu.
Dan di balik pepohonan rindang, kembali aku berbincang.
Pada bayang-bayang yang masih bisa kukenang.
Comments
Post a Comment