Jarang sepertinya buatku tuk bicara terbuka soal siapa yang ada di hati ini. Secara terbuka. Cukup melihat dan tahu bahwa orang itu ada. Sekedar meraba-raba, entah kapan mulainya, kapan berakhirnya. Mungkin sebagian besar hanya melihat dari kejauhan, dan bertanya, siapa.
Jujur, tak banyak pengalaman yang bisa kukatakan. Aku senang untuk menikmatinya sendiri. Merasakan bagaimana hidup terasa nyaman disaat seseorang datang dan kemudian duduk di samping ruang hati ini. Dan semuanya bermula sebagai teman, karena buatku, mengejar seseorang tanpa ada perasaan nyaman untuk dikenal, sekedar permainan tanpa tujuan. Bisa berakhir kapan saja, bukan karena tak nyaman, namun karena ada peraturan yang dilanggar.
Semua tampak indah di awal. Semua berawal oleh perasaan nyaman sebagai teman. Karena benar, sebuah hubungan buatku bukan sekedar senang-senang. Mencoba tuk membagi dan mengerti apa yang kelak akan kulalui. Yah, dan akhirnya semua itu berhenti. Masing-masing dengan cerita berbeda. Ada yang memang karena kesulitan dalam memahami hubungan tanpa persentuhan. Ada yang kemudian aku sendiri memilih untuk tak melangkah lebih jauh karena perbedaan. Ada juga yang kemudian berakhir karena memang tak dianggap sebagai pasangan. Dan terakhir...
Dan terakhir adalah hubungan terlama yang pernah kubina. Satu tahun lebih bukan waktu yang sebentar. Tak ada masalah ketika kemudian berhubungan lewat gelombang di udara. Tak ada masalah ketika kemudian hanya sejenak waktu yang kami punya tuk saling mendekatkan diri berdua. Kalaupun ada persoalan kecil, kuanggap wajar, karena memang kita berdua sangat berbeda.
Entah sejak kapan, suara-suara samar berbisik di kepala. Sesuatu yang dipendam mulai membuatnya tak nyaman. Saat dimana ada jeda panjang ketika hubungan banyak dilakukan bukan dengan pertemuan. Dan semakin ku meraba, semakin banyak hal tak terduga yang terungkap dan terbuka.Bukan orang lain, ada yang lebih besar dari itu. Aku tahu perasaan itu.
Akhirnya, cerita ini sejenak berhenti. Entah sampai kapan. Menunggu dering bersuara dan bergetar pelan. Untuk seorang teman. Untuk ketenangan di lelahnya hati membela diri. Untuk menanti sebuah keajaiban akan kepastian. Dan akupun pulang.
Jujur, tak banyak pengalaman yang bisa kukatakan. Aku senang untuk menikmatinya sendiri. Merasakan bagaimana hidup terasa nyaman disaat seseorang datang dan kemudian duduk di samping ruang hati ini. Dan semuanya bermula sebagai teman, karena buatku, mengejar seseorang tanpa ada perasaan nyaman untuk dikenal, sekedar permainan tanpa tujuan. Bisa berakhir kapan saja, bukan karena tak nyaman, namun karena ada peraturan yang dilanggar.
Semua tampak indah di awal. Semua berawal oleh perasaan nyaman sebagai teman. Karena benar, sebuah hubungan buatku bukan sekedar senang-senang. Mencoba tuk membagi dan mengerti apa yang kelak akan kulalui. Yah, dan akhirnya semua itu berhenti. Masing-masing dengan cerita berbeda. Ada yang memang karena kesulitan dalam memahami hubungan tanpa persentuhan. Ada yang kemudian aku sendiri memilih untuk tak melangkah lebih jauh karena perbedaan. Ada juga yang kemudian berakhir karena memang tak dianggap sebagai pasangan. Dan terakhir...
Dan terakhir adalah hubungan terlama yang pernah kubina. Satu tahun lebih bukan waktu yang sebentar. Tak ada masalah ketika kemudian berhubungan lewat gelombang di udara. Tak ada masalah ketika kemudian hanya sejenak waktu yang kami punya tuk saling mendekatkan diri berdua. Kalaupun ada persoalan kecil, kuanggap wajar, karena memang kita berdua sangat berbeda.
Entah sejak kapan, suara-suara samar berbisik di kepala. Sesuatu yang dipendam mulai membuatnya tak nyaman. Saat dimana ada jeda panjang ketika hubungan banyak dilakukan bukan dengan pertemuan. Dan semakin ku meraba, semakin banyak hal tak terduga yang terungkap dan terbuka.Bukan orang lain, ada yang lebih besar dari itu. Aku tahu perasaan itu.
Akhirnya, cerita ini sejenak berhenti. Entah sampai kapan. Menunggu dering bersuara dan bergetar pelan. Untuk seorang teman. Untuk ketenangan di lelahnya hati membela diri. Untuk menanti sebuah keajaiban akan kepastian. Dan akupun pulang.
Comments
Post a Comment