Skip to main content

Oportunis




Ngerti artinya oportunis?
Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu...

"seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi"
Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri

 

Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis...
"Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan"
Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda.

Begitulah...
" Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"
 "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan"
Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan menjadi jalan menuju kejahatan.

How come?

Pernah dengar seorang motivator yang tanpa sengaja mengeluarkan pendapat judgmental mengenai wanita yang keluar malam? Perhatikan baik-baik "Wanita yang keluar malam" bukan "Wanita malam"

Buat mahasiswa seperti saya yang terbiasa memaksimalkan kerja otak di saat malam,  berkerja dan melihat wanita keluyuran tengah malam adalah hal biasa. Akan berbeda jika kemudian ia mengenakan baju kelewat seksi tanpa laptop, atau ransel punggung.

Wanita yang sama-sama keluar malam, tapi berbeda tujuan, tapi tetap sama penilaian oleh orang.

Disinilah kemudian satu kesimpulan muncul. Betapa kita sangat dipengaruhi oleh pandangan dan diam-diam tanpa memperhatikan, kita cenderung membenarkan.

Betapa kita membiarkan lingkungan mengkonstruksi lalu tak peduli di saat kita kebingungan jati diri.

Kalau misalnya kita berpikir sempit, ada suara hati yang diam-diam menyalahkan. Sementara itu, kita tetap terbenam dengan penyesalan karena kehilangan kesempatan yang ditutupi oleh kesalahpahaman.

Kita takut mencari apa yang kita inginkan karena tidak ada pengalaman. Kita tidak berani mencari pengalaman karena ga punya pengetahuan. Kita ga punya pengetahuan karena ga punya pengalaman. Saya yakin lingkaran setan yang saya sebutkan sudah biasa terdengar.

Bahkan untuk dapat melihat kesempatan, orang harus tahu apa yang ia inginkan dengan memiliki kemampuan dan terus menyalakan harapan. Bukan hal yang gampang memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Bukan berarti juga semua orang bisa.

Masih melihat oportunis dengan kacamata yang sama?

Comments

Popular posts from this blog

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...