Skip to main content

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten


Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali.

Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jalur perlintasan ini dapat dimaksimalkan sebagai tempat bongkar muat barang.

Saya mencoba membandingkan hasil pengamatan dengan apa yang dirasakan oleh pedagang dan pengelola pasar sendiri. Ada sedikit kelucuan dalam proses wawancara ini. Awalnya saya sempat berbincang dengan pedagang di los makanan sebelum bertemu dengan lurah pasar sebagai perwakilan dari pengelola. Ketika di cross check ke lurah pasar, beliau menganjurkan untuk mewawancara perwakilan pedagang lain. Ujung-ujungan, saya kemudian mewawancarai ketua los pakaian sebagai pihak yang direkomendasikan. Cukup menyenangkan dan bisa dibilang menarik ketika proses wawancara ini berlangsung.

Beliau sendiri termasuk yang cukup terbuka ketika ditanyai mengenai kondisi pasar. Sebelumnya beliau pernah berjualan di pasar Boyolali dan Delanggu sehingga dapat dikatakan perspektifnya berimbang terhadap kekurangan dan kelebihan yang ada. Mengenai kegiatan yang menunjang kemampuan pedagang, beliau menyampaikan jika program yang selama ini ada cenderung bersifat resmi sehingga hanya beberapa pedagang yang menikmati pelayanan tersebut. Dan berulangkali sebelumnya, hidupnya pasar ini sebagai pasar percontohan karena memang didukung secara dana dan fasilitas, tapi belum secara SDM.

Dari proses review singkat ini, ada beberapa rekomendasi yang dapat diberikan. Pengaturan pasar tidak hanya diberikan kepada pedagang, namun juga diarahkan pada aparatur pemerintah dan pihak sekitar pasar yang biasanya mengelola. Perubahan pada pasar bisa saja dilakukan dengan mudah karena pedagangnya cenderung manut.

Selain itu, kesadaran akan obyek wisata, yang masih dikelola secara tradisional, membuat saya beranggapan bahwa perlu ada keselarasan dalam pembangunan fasilitas keindahan pasar. Kesan pasar baru masih sangat terasa dan cenderung kaku.

Untuk pasar yang dapat dijadikan contoh, mungkin Pasar Kotagede. Kurikulum sekolah pasar yang biasanya membahas mengenai small enterprise management bisa dikombinasikan dengan manajemen pasar wisata, soalnya beberapa pedagang pernah mengikuti studi banding pasar. Dari situ bisa mengikat pedagang secara tidak langsung.

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...