Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN.
Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal (Act of Killing) premanisme seakan dilegalkan diam-diam.
Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya.
Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan isu dan sejarah masa lampau. Semua yang terlihat mirip di masa lalu kemungkinan banyak yang hilang sehingga menjadi buram dalam memeriksa kebenarannya. Selain itu, di lain pihak, agenda tahun 65 merupakan masalah yang tidak selesai sampai sekarang. Ada yang bilang ini adalah kejahatan kemanusiaan yang terstruktur. ada juga yang mengatakan memang banyak korban jatuh di tangan komunis Indonesia sehingga mereka pantas diberangus seutuhnya. Dan lucu juga ketika sosialisme, disamakan dengan komunisme. Karena memang kenyatannya, sekarang kapitalisme sendiri menjadi idealisme yang sama seramnya dengan komunisme di masa lampau. Bedanya, komunisme sekali menghabisi langsng banyak. Sementara Liberalis membantai banyak orang secara pelan-pelan.
Saya hampir putus asa dan menutup apa terhadap semua Isme yang ada. Karena memang, diam-diam semua memiliki kelebihan dan kekurangannya sehingga saya sendiri kembali kepada nilai universal. Hak Asasi Manusia (yang sesuai dengan keadaan lingkungan sekitar dan tidak kebablasan). Gampanganya gini. Saya boleh tidak suka gay, tapi bukan berarti saya mengijinkan jika hak mereka sebagai manusia dirampas. Bagaimana bisa saya berfikiran seperti itu bisa panjang jika dijelaskan.
Selain itu, saya juga banyak kecewa dengan beberapa teman yang kemudian hanya bisa menjadikan isme sebagai wacana. Ketika kemudian gerakan mengarah kepada pelaksanaan, banyak yang hilang. Katakan saya realis. Diktator. Utopis. Whatever.
Saya juga kecewa dengan pemerintah saya sendiri. Ketika Isme dijadikan pintu pereguk keuntungan. Di satu sisi berteriak nasionalisme, di sisi lain menjual nasionalisme mereka sendiri diam-diam.
Pada akhirnya saya menganggap keduanya sama. Dan perlu dicatat, saya memilih jalan saya sendiri. Memilih untuk tetap menjalani hidup, dan tidak apatis. Kesannya cemen, memilih jalan aman. Tapi pada akhirnya, saya melihat ini yang terbaik. Itu juga yang kemudian saya sampaikan lewat gambar di bawah. Niatnya mau bikin Anarchy, tapi saya rasa, saya tidak se Anarchy itu.
Yang menjadi inspirasi awal adalah logo mic arit
Saya merasa banyak pejabat dan aktivis yang sebenarnya sama saja. Cuma bisa ngomong. Jadi yang saya bayangkan bagaimana menggambarkan kedua sisi yang sebenarnya berlawanan, tapi pada akhirnya, yang dilakukan sama. Sok militan kaya komunis, tapi bau mulut saja yang keluar.







Comments
Post a Comment