Skip to main content

OR



Jam menunjukkan angka 11 malam saat aku nulis note ini. Baru aja selesai beresin basecamp bulaksumur pos tercinta. Agak capek memang (what the hell!) tapi lega rasanya udah menyelesaikan tugas secara tidak langsung. Menyortir berkas pendaftaran, tes tertulis, dan tes wawancara. Dari Ikrom udah diberesin sang Manikrom, Yana and the gank. Produksi fifty-fifty lah. Divisi yang aku beresin sendiri Cuma Litbang sama Redaksi. Litbang mah enak, divisi sendiri dan jumlahnya ga sedikit. Redaksi paling banyak. Total sekitar 50an. Lebih mungkin. Tapi seenggaknya malam ini aku udah bisa tidur dengan tenang. Sedikit melepaskan tugas. Tugas kali ini punya judul bernama tim open recruitment awak bulaksumur pos.Open recruitment biasanya dikerjain sama anak tahun pertama menginjak tahun kedua.Tim open recruitment awalnya berjumlah 7 orang. Dari litbang ada aku ma Syefi. Produksi ada Vian sama Mufid. Redaksi diisi oleh Nindy ma Nining. Dan terakhir tak lupa, Agung Mardiko dari Ikrom. Di tim ini aku ditunjuk menjadi ketua. Tim ini mulai berkerja sejak Mei 2009. Diselingi oleh bulpos edisi Maba, liburan semester, puasa, lebaran dan Gelanggang Expo yang biasanya diadakan di awal tahun pelajaran, tapi digeser sampai dengan awal Oktober. Dengan adanya selang waktu yang cukup panjang ini mau nggak mau progress tim ini sedikit terhambat. Kasus yang jarang terjadi di oprek-oprek sebelumnya.
� Jeda waktu yang panjang bukanlah satu-satunya hambatan bagi tim ini. Di awal kerja, sudah ada anggota tim yang nggak bisa datang rapat karena kuliah dan masalah di keluarga. Nggak cukup dengan itu, tim ini masih harus menghadapi masalah adanya anggota yang megundurkan diri. Cukup membuat shock juga untukku karena harus mengonsep dengan anggota yang lebih sedikit. Selain itu, perkerjaan ini bukanlah suatu hal yang simple. Aku harus mengerjakan tugas yang amat sangat administratif. Padahal, karakterku adalah orang lapangan yang malas berurusan dengan masalah birokrasi dan apa-apa harus secara tertulis. Tapi mau gimana lagi. Aku sudah menyanggupkan diri buat jadi ketua.
Sebenarnya, tugas sebagai ketua itu sederhana. Tinggal koordinasi dan semua beres. Tapi ternyata, aku nggak bisa dengan sederhana berkerja kali ini. Tim yang aku pegang bukanlah sebuah tim ideal dimana aku bisa nyuruh-nyuruh saat aku perlu melakukan hal itu. Buat tambahan, sebagian besar timku adalah anak eksak dan kuliah mereka sangat padat. Mau nggak mau, semua tugas yang udah aku kasihin, harus ku ambil alih. Memang di bulpos masih ada banyak tenaga lain, tapi aku punya tim dan aku percaya mereka. entah kerjaan mereka seratus persen bener atau nggak, yang pasti aku percaya sama mereka. Dan konsekuensinya, kalo ada masalah, harus aku yang membereskannya.
Aku sendiri punya banyak masalah, tapi aku harus tanggung jawab sama tugasku. Itu yang kubilang sama diri sendiri. Beruntung orang-orang di luar tim tanpa diminta secara otomatis mau mengulurkan tangan buat membantu. Mulai dari publikasi, jaga stand, sampai mau hadir di tes wawancara dan tertulis susulan. Seenggaknya itu bikin aku ngelihat masih banyak orang yang perduli.
Aku nggak perduli orang mau ngatain kayak apa aku di belakang. Tapi yang pasti, aku berusaha sebaik mungkin buat nyelesaiin tugas. Buat hasilnya, biarkan orang lain yang menilai. Aku sudah cukup lelah dan pengen istirahat sejenak. Sekedar menarik nafas dan menikmati waktu untuk mengobati luka. �

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...