Menyalahkan orang lain secara terbuka di depan umum, jejaring sosial, juga media. Aku nggak suka itu. Masalah jadi tambah panjang, orang nggak berkepentingan ikut masuk, dan akhirnya, hubungan jadi buruk. Finally, is it the best way to fix you problem? Nope.
Tapi, mau gimana lagi. Sulit rasanya sekarang untuk membuat orang lain mengerti. Semua seolah menuntut dimengerti, tapi nggak ada yang mau mengerti.
Yah, banyak yang memilih buat menyelesaikan sebuah permasalahan dalam bayangan kepalanya sendiri. Mencoba memenuhi tuntutan-tuntutan banyak orang. Berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetep aja, nggak ada yang merasa puas. Bukan soal perbedaan standard yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri dalam memaksimalkan apa yang ada.
Pernah denger istilah, rantai terkuat, adalah rantai yang terlemah. Maksudnya, kita sering ngelihat di sekitar, banyak orang-orang yang merasa dirinya lemah. Tapi, apakah mereka akhirnya menyalahkan ketidakmampuan mereka?
Nggak! Justru mereka adalah orang terkuat dalam memegang tekad. Mereka itulah orang-orang yang berkerja di luar sistem dan selalu memegang komitmen.
Komitmen. Ketika sebuah pekerjaan diberikan, aku cuma berharap aku bisa menyelesaikannya dengan kemampuan yang aku punya semaksimalnya sampai selesai. Ketika akhirnya ada beban tambahan, tetep aku terima. Aku berusaha. Tetapi akhirnya, ada satu titik dimana aku sadar. Titik di saat memang aku nggak bisa dan perlu bantuan orang lain biar tetap memenuhi harapan setiap orang.
Ini yang seringkali menjadi persoalan. Ternyata memang nggak semua orang bisa diberi pertanggungjawaban. Say yes today, and you'll find no answer tomorrow. Kalau udah seperti itu, mau gimana lagi. Terpaksa akhirnya cara yang nggak biasa dilakukan biar kerjaan tetap selesai. Aku nggak mau aja akhirnya kerjaanku sendiri terbengkalai cuma gara-gara nunggu orang yang aku minta tolong nggak bisa melakukan apa yang kuminta.
Dan ini bikin aku seperti terlihat selalu berkerja sendiri. Padahal, di belakangku sana, selalu ada orang yang memang sudah aku minta buat beresin masalah yang aku berikan.
Efeknya, perlu waktu yang mungkin agak lebih lama, dan berjalan di luar sistem yang ada. Efek berantai tercipta dan yang lain tertunda.
Tapi mau gimana lagi? Aku udah nggak perduli. Yang penting, kerjaanku selesai, dan beban yang aku emban nggak nambahin pikiran.
Tapi, mau gimana lagi. Sulit rasanya sekarang untuk membuat orang lain mengerti. Semua seolah menuntut dimengerti, tapi nggak ada yang mau mengerti.
Yah, banyak yang memilih buat menyelesaikan sebuah permasalahan dalam bayangan kepalanya sendiri. Mencoba memenuhi tuntutan-tuntutan banyak orang. Berusaha semaksimal mungkin, tetapi tetep aja, nggak ada yang merasa puas. Bukan soal perbedaan standard yang dimiliki oleh setiap orang, tetapi lebih kepada keinginan dari diri sendiri dalam memaksimalkan apa yang ada.
Pernah denger istilah, rantai terkuat, adalah rantai yang terlemah. Maksudnya, kita sering ngelihat di sekitar, banyak orang-orang yang merasa dirinya lemah. Tapi, apakah mereka akhirnya menyalahkan ketidakmampuan mereka?
Nggak! Justru mereka adalah orang terkuat dalam memegang tekad. Mereka itulah orang-orang yang berkerja di luar sistem dan selalu memegang komitmen.
Komitmen. Ketika sebuah pekerjaan diberikan, aku cuma berharap aku bisa menyelesaikannya dengan kemampuan yang aku punya semaksimalnya sampai selesai. Ketika akhirnya ada beban tambahan, tetep aku terima. Aku berusaha. Tetapi akhirnya, ada satu titik dimana aku sadar. Titik di saat memang aku nggak bisa dan perlu bantuan orang lain biar tetap memenuhi harapan setiap orang.
Ini yang seringkali menjadi persoalan. Ternyata memang nggak semua orang bisa diberi pertanggungjawaban. Say yes today, and you'll find no answer tomorrow. Kalau udah seperti itu, mau gimana lagi. Terpaksa akhirnya cara yang nggak biasa dilakukan biar kerjaan tetap selesai. Aku nggak mau aja akhirnya kerjaanku sendiri terbengkalai cuma gara-gara nunggu orang yang aku minta tolong nggak bisa melakukan apa yang kuminta.
Dan ini bikin aku seperti terlihat selalu berkerja sendiri. Padahal, di belakangku sana, selalu ada orang yang memang sudah aku minta buat beresin masalah yang aku berikan.
Efeknya, perlu waktu yang mungkin agak lebih lama, dan berjalan di luar sistem yang ada. Efek berantai tercipta dan yang lain tertunda.
Tapi mau gimana lagi? Aku udah nggak perduli. Yang penting, kerjaanku selesai, dan beban yang aku emban nggak nambahin pikiran.
Comments
Post a Comment