Skip to main content

Ketika Ridho pergi


Ridho akhirnya pergi. Setelah 2 tahun kami bisa membangun studio foto sederhana, akhirnya ia putuskan untuk tak lagi duduk di tempat yang sama. Pekerjaan menuntutnya pindah Ke Surabaya. Mungkin Yogyakarta tidak menjanjikan apa-apa selain kreatifitas juga kepandaian tanpa batas. Mungkin juga keluarga. Mungkin juga kehidupan tak seindah yang semua kira

"Aku punya mimpi juga kehidupan pribadi. Dan saat ini, bukan jalan berbeda yang memisahkan kita, tapi realita"

Itu kata terakhir yang diucapkan saat aku dan Seto mengantarnya ke Stasiun Tugu. Yang lain nggak ikut. Indra sedang menemani pacarnya belanja. Sementara Bobi mengambil gambar Konser Tika dan Frau di JNM. Aku yakin, itu hanya alasan. Kenyataannya mereka tak rela jika harus melihat Ridho pergi. Mungkin dia bukan salah satu fotografer terhebat yang dimiliki studio ini. Tapi, ia adalah satu pendiri studio hebat ini. Masing-masing memiliki peran berbeda. Dan semua menganggap, dialah yang bisa menyatukan kami semua.

Hari-hari tanpa Ridho serasa hampa. Tak ada lagi canda tawa saat mengambil gambar bersama. Tak ada lagi petuah-petuah bijak saat semua kehabisan tenaga dan emosi mudah menyala. Studio tak ubahnya tempat kerja tanpa rasa. Seni tak lagi menjadi suara dari hati. Pelanggan mulai hilang, dan uang menjadi persoalan. Tapi, semua mencoba tetap bertahan. Semua sadar, ada impian yang belum terwujudkan.

---

Mentari sedang menggulung siang saat itu. Menyisakan merah jingga di angkasa. Tinggal aku sendiri di studio. Maklum, malam minggu. Mendadak Ponsel berdering. Kulihat satu nama yang lama tak pernah kulihat muncul di layar.

"Aku sudah sampai di stasiun tugu. Bareng yang lain. Ketemu di Jendelo aja. Habis ini langsung ke situ"

Segera kurapikan peralatan untuk memotret. Setelah yakin semuanya beres, kupacu motorku ke Jalan Affandi. Studio kami ada di Jakal. Pelan-pelan kususuri jalan tikus yang membelah rumah-rumah rapat sekaligus kos-kosan di daerah Deresan. Aku yakin, jalan raya akan macet karena ini hari Sabtu. Selain karena kebanyakan mahasiswa keluar bermalam minggu, pengunjung dari luar kota juga akan menambah banyaknya kendaraan yang memadati jalan.

Ternyata benar. Yang lain baru sampai 15 menit setelah aku datang. Mukaku kubuat tampak kesal. Maklum, dari semuanya, cuma aku yang nggak tahu jika ia akan datang. Tampaknya semua memang sengaja membuatku tak tahu. Entah apa maksud mereka, yang jelas senyum malu-malu terukir.

"Aku yang meminta agar kamu tak tahu" Ia memulai pembicaraan

“Semua udah cerita apa yang terjadi. Setelah aku pergi, cuma kamu sendiri yang akhirnya tetap maksimal dalam mengelola studio. Sejujurnya, yang lain juga pengen seperti kamu”

Mataku kuedarkan pada wajah-wajah yang ada. Tak ada lagi raut muka bercanda lagi di sana. Semuanya tampak serius dan penuh perhatian. Ada sedikit perasaan bersalah yang disampaikan di pandangan teman-teman.

“Nggak papa kok. Aku nyantai aja. Semua kan punya kesibukan masing-masing. Dan aku memahami itu”

“Tapi kami nggak enak sama kamu. Udah waktunya buka mata, kalau memang kita semua punya mimpi yang berbeda” ujar Bimo

“Justru karena itu, lakukan yang kalian bisa untuk membuatku bangga punya teman kalian!”

Semua terdiam. Ada tetes mengalir dari wajah Bobi. Dia memang sedikit melankolis.

“Aku bangga kamu bisa menyikapi masalah ini dengan bijaksana” lirihnya.

Semua diam.

Ridho mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Brem Madiun.

“Dimakan, jangan cuma dilihat”

Usahanya memecah suasana berhasil. Pembicaraan terus mengalir. Semua keluh kesah akhirnya keluar. Juga saran dan kritik membangun dari setiap individu. Tembok kebekuan yang hadir setelah Ridho ke Surabaya sedikit demi sedikit runtuh. Kami saling terikat kembali

“Aku memang pergi, tapi bukan berarti aku tak peduli” kata Ridho setelah satu demi satu pulang. Tinggal aku dan dia

“Dan aku yakin, kamu bisa meneruskan apa yang kita bangun bersama”

Satu kata sebelum Sabtu malam ini berakhir membuatku terbangun. Aku bermimpi.

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...