
Q:”Mas, angkatan 2007 ya?”
A:”Iya”
Q:”Kok ga eksis di kampus, mas?”
A:”:|”
Dialog di atas sempat menjadi status seorang teman di Facebook dan twitter. Beberapa teman langsung bereaksi dengan komen yang cukup galak
“Bata aja gan!”
“Anak angkatan berapa sih?! Belagu banget!”
“Dasar eksis abal-abal!”
Sama-sama sebel. Itu yang kurasakan. Sadar sih, aku sendiri jarang nongol di kampus kecuali buat kuliah dan ngerjain tugas. Selebihnya, aktivitas sehari-hari lebih sering dihabiskan di luar. Di UKM, di Komunitas, juga jalan bareng teman-teman.
Setahun ini, mendadak eksis di kampus menjadi salah satu kebutuhan yang mendasar. Bukan untuk aku pribadi, tapi anak-anak baru. Nggak tahu gimana prosesnya, tapi terlihat sekali beberapa orang berusaha untuk selalu terlihat aktif di berbagai event yang ada di kampus. Hahahaha…dasar ababil (ABG-ABG labil). Aku sendiri? Mau dibilang eksis, di Fakultas sendiri banyak yang nggak kenal. Yang kenal malah banyak teman dan adik angkatan dari luar fakultas. Mau dibilang nggak eksis, aku juga sempet ngurusin beberapa kegiatan di kampus.
Jadi, eksis yang kaya gimana yang dimaksud? Perlu nggak sih untuk terlihat eksis?
Aku nggak tahu eksis itu sebenarnya gimana. Aku kan bukan mahasiswa psikologi .Cuma mungkin penjelasan di tulisan ini bisa membuat yang lain sedikit sadar juga tahu konteks sebenarnya mengenai wujud eksis.
Aku pribadi suka mengkategorikan eksis jadi 2.
Yang pertama, eksis abal-abal. Yang kedua, eksis secara total.
Jadi gini, di dalam kehidupan sosial, kita punya satu kebutuhan yang namanya pengakuan. Nah, eksis itu seringkali dianggap sebagai salah satu cara biar kita diakui. Diakui kalau kita hebat. Diakui kalau kita ini bisa diandalkan. Dan diakui biar kita bisa menonjol serta mempunyai pengaruh untuk mempengaruhi keadaan
Eksis bisa dikategorikan sebagai kebutuhan dasar manusia. Layaknya kebutuhan dasar lainnya seperti makan, minum, dan bertahan hidup. Tiap orang tentunya memiliki masa dan pengalaman yang berbeda sehingga sikap serta pelakuan mereka terhadap kebutuhan untuk eksis juga berbeda. Yang satu merasa nyaman dan membutuhkan dengan perhatian orang lain secara terus menerus. Sedangkan yang lain sudah merasa tidak perlu dengan berusaha agar diperhatikan. Mereka sudah punya yang mereka butuhkan di dalam hidup sehingga mereka tak perlu berusaha. Mereka sudah punya sesuatu yang bisa membuktikan jika mereka eksis.
Nah, itu beda antara eksis abal-abal dan eksis secara total. Yang satu berusaha untuk terlihat, dan satunya memang sudah kelihatan.
Perbedaan pola pikir ini sebenarnya dipengaruhi oleh kedewasaan dalam melihat kemampuan orang-orang di sekitar. Kedewasaan ketika akhirnya kita punya sesuatu yang jadi tujuan dan kemudian fokus di dalamnya.
Dari hasil ngobrol bareng seorang temen anak psikologi, akhirnya aku tahu bahwa wajar jika akhirnya manusia menjadi eksis abal-abal dan eksis total. Ketika orang ga punya tujuan dan sesuatu yang dilakukan, yang bisa mereka lakukan tinggal satu, terlihat hebat. Sekedar terlihat hebat. Sekedar dikenal banyak orang dan terkenal. Tapi, ga ada hasilnya selain omong kosong karena memang ga ada yang mau dikembangkan ketika dengan terkenal saja sudah merasa nyaman. Terkenal di sini berbeda lho dengan terkenalnya seniman, Public figure, juga artis. Mereka memang fokus sama kemampuan yang mereka punya. Mereka sadar dengan apa yang mereka miliki dan berusaha untuk mengembangkannya. Jadi ga Cuma terkenal tanpa memiliki sesuatu yang bisa menjadi kontribusi. Itulah bedanya eksis abal-abal dan eksis total.
Orang-orang dengan karakter eksis abal-abal dan eksis total pastinya akan selalu kita temui dimanapun kita berada. Cuma, kita perlu sadar satu hal, kita termasuk yang mana? Apakah kita sudah punya tujuan dan melakukan sesuatu didalam hidup kita? Penting untuk tahu mengenai diri kita juga mengapa kita ada dunia. Tidak sekedar memenuhi dunia dengan hal-hal yang tidak berguna dan tidak membuat orang lain merasa bahagia.
Selain itu, kita juga perlu tahu bagaimana menyikapi temen-temen dengan karakter seperti itu. Tentunya kita pengen selalu hidup nyaman ketika misi kita terpenuhi dan damai terasa kan. Makanya, kenali sekeliling kita dan bersikap sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak ada perasaan mengganjal juga. Jangan sampai karena perbedaan ini, persinggungan yang nggak bikin enak hati justru muncul.
Comments
Post a Comment