Kepada temanku generasi penerus Indonesia...
Hey kamu pembaca surat ini, apa kabar? Semoga surat ini bisa
menyampaikan salam hangat dariku meski kita belum saling mengenal. Sebelumnya
perkenalkan, namaku Juned. Lengkapnya Junaedi Ghazali. Masih belajar di sebuah
Kota Pelajar. Bisa tebak dimana tepatnya? Yup, Yogyakarta, atau lebih terkenal
dengan nama pendeknya, Jogja.
Aku bukan asli Jogja. Kota lahirku Singkawang, Kalimantan
Barat. Sebelum akhirnya menginjakkan kaki ke kota ini, sebelumnya aku pernah tinggal juga di Sragen dan Surakarta. Keduanya berada di Jawa Tengah. Dari ketiganya,
Jogja merupakan kota yang paling berkesan dan paling sulit ditinggalkan.
Mengapa? Kamu harus tahu cari sendiri jika belum pernah ke kota ini. Ada yang
bilang, melihat gambar dan merasakan langsung apa yang ada di gambar terasa berbeda
bukan?
Berada di kota ini membuatku bertemu banyak orang dari
penjuru dunia, bukan hanya Indonesia. Semua dengan tujuan yang sama, belajar.
Mungkin kamu bertanya, mengapa orang-orang rela pergi jauh dari rumahnya untuk
belajar di Jogja? Bisa dibilang, Jogja menarik bukan hanya karena banyaknya
Sekolah dan Universitas disini, tapi juga lingkungan belajarnya banyak. Bukan
hanya belajar di kelas, tapi juga di luar kelas.
Ada beberapa cerita menarik mengenai perjuangan beberapa
teman ketika belajar di sini. Aku ceritakan satu-satu ya.
Cerita pertama adalah kisah seorang pemuda yang berasal dari
Madura. Untuk dapat kuliah di Jogja, ia rela kabur dari rumah. Orang tuanya
lebih setuju setelah lulus SMA ia langsung berkerja. Tapi ia menginginkan
perubahan hidup dan memutuskan untuk pergi ke Jogja. Dalam pelariannya, ia
bertahan hidup dengan berjualan koran sembari tetap menyisihkan uang untuk
cita-citanya. Setelah menabung setahun, ia kemudian mendaftar ke sebuah
Universitas Islam di kota ini.
Selama kuliah, ia tetap berjuang dengan menulis
di berbagai macam media dan menjaga prestasinya agar tetap mendapatkan
beasiswa. Melihat kerja kerasnya, akhirnya orang tuanya luluh. Keras memang
perjuangannya, tapi ia kemudian merasakan manisnya. Sempat beberapa kali ke
luar negri dan kuliah dengan gratis dari awal sampai akhir. Setahun yang lalu
baru saja ia lulus. Terkesan semacam sinetron memang, tapi ini
adalah kisah nyata. Kamu bisa cek langsung namanya di Facebook, M Nurul Ikhsan.
Kalau sudah jadi temannya di Facebook, kamu bisa tanya berdialog langsung
dengannya. Siapa tahu cerita langsung darinya bisa membuatmu merasakan apa yang
ia cari dari pendidikan.
Cerita kedua adalah seorang gadis cina, asli Malang, Jawa
Timur. Pertama kali menginjakkan kaki di Jogja, rasa takut akan diskriminasi
adalah hal pertama yang ia kira ada. Maklum, seumur hidupnya baru kali ini ia
belajar di sebuah lembaga pendidikan negri. Selain itu, ia juga memilih kuliah
di sebuah jurusan yang kurang populer di antara temannya sesama cina.
Sosiologi. Bukan Ekonomi atau Kedokteran yang begitu lulus biasanya langsung
berkerja dengan penghasilan lumayan. Berada di sebuah lingkungan asing
memberikan banyak pengalaman baginya. Ketakutan-ketakutan yang sebelumnya ia
rasakan, pelan-pelan menghilang. Di kota ini ia menemukan sebuah tempat dimana
seseorang diterima bukan karena suku, agama, atau ras.
Untukku sendiri,
mengenalnya meruntuhkan semua pandangan buruk mengenai Cina. Anggapan-anggapan
bahwa cina itu pelit, pikirannya hanya soal duit, dan licik tak pernah ada
begitu mengenal dirinya. Kami saling belajar bahwa ada kesalah pahaman dalam
pikiran antara satu sama lain. Kami merasakan langsung bahwa perbedaan bukan
untuk menjadi alasan mengatakan siapa yang benar dan salah, tapi untuk melihat
bahwa ada keindahan jika kita mau saling mengenal dan berjalan bersama dalam
meraih tujuan. Ada tidak temanmu yang berbeda agama dan suku? Jika kamu belum
pernah berbincang secara panjang lebar, coba sesekali kamu bertanya mengenai
kesehariannya. Ada keasyikan tersendiri ketika belajar mengenai orang lain dan
membandingkan dengan diri sendiri. Kamu akan melihat bahwa terkadang prasangka
itu hanya ada di kepala, bukan di depan mata.
Kisah berikutnya adalah kisah seorang teman dari golongan
yang cukup berada. Terlahir di Ibukota, ia terbiasa dengan yang namanya hidup
mapan, juga jauh dari penderitaan. Tapi dasarnya manusia, hidup dengan
kenyamanan justru membuatnya merasa tak bahagia. Sekali waktu, iseng-iseng ia
ikutan teman-teman yang kerjanya belajar sambil membantu pedagang di pasar. Ia
kaget, karena ternyata jualan di pasar itu tidak hanya membawa barang dagangan,
menunggu pembeli, dan kemudian pulang. Pedagang yang modalnya tidak besar harus
kerja keras agar ia tetap mendapatkan untung dari kerjanya. Harus pergi
pagi-pagi buta dan pulang ketika malam tiba. Waktu untuk bertemu anak dan
keluarga akhirnya tidak banyak.Tidak hanya itu. Kalau jualannya itu makanan dan
tidak laku, pedagang harus siap-siap kehilangan uang karena makanan yang sudah
basi tidak mungkin dijual kembali.
Nah, teman kita yang satu ini kuliahnya
kebetulan di ekonomi. Ia tahu bagaimana caranya berdagang dengan baik sehingga
pedagang tidak harus rugi, dan hidupnya sejahtera. Karena melihat langsung
kesusahan pedagang ini tadi, ia yang sebelumnya tidak terlalu nyaman berteman
dengan pedagang pasar, akhirnya mau ikut bermandi keringat dan mukanya
menghitam terkena panas matahari. Pedagang pun senang karena mendapatkan ilmu
juga bahagia karena ternyata tidak semua orang yang berada itu tidak punya rasa
peduli pada sesama. Tidak seperti yang biasa kita tonton di televisi. Tidak semua mereka yang kaya senang menyiksa orang yang lebih lemah darinya
Sebenarnya, banyak kisah mengenai teman-teman lain yang tak
kalah hebatnya. Teman-teman yang merasa bahwa belajar itu ternyata bukan hanya
menghapal dan mengerjakan tugas dari sekolah. Teman-teman yang belajar tidak
hanya dari buku, tapi juga dari lingkungannya. Hanya karena kebetulan aku di
Jogja saja, kemudian kisah yang kuceritakan adalah teman-teman dari Jogja.
Seandainya kelak kamu memang belum sempat ke Jogja, bukan tidak mungkin kamu
bertemu dengan orang-orang yang ceritanya mirip tadi di sekitarmu.
Pesanku, jika kamu senang belajar, teruslah belajar sampai
kamu tahu pelajaran apa yang kamu kuasai dan senangi. Akan menyenangkan jika
kamu bisa membuat sesuatu dari pelajaran yang kamu sukai dan berguna untuk
orang lain. Jika memang kamu belum suka untuk duduk dan belajar di sekolah,
cobalah kamu lihat dan bertanya pada orang-orang disekitar yang tidak sekolah.
Bertanya, apakah mereka juga ingin sekolah dan belajar dengan nyaman.
Jawabannya bisa macam-macam, tapi kelak kamu bisa menyimpulkan sendiri, bahwa
belajar dari sekitar itu lebih menyenangkan. Siapa tahu dengan demikian kamu
akan menemukan cara belajar yang tidak hanya membuatmu makin pintar, tapi juga cerita hebat dari teman-teman yang rela berjuang untuk bisa tetap belajar.
Mungkin itu dulu cerita unikku mengenai Jogja dan
orang-orang yang belajar di sana. Siapa tahu, kamu punya cerita sendiri
mengenai teman dan kotamu. Mengenai tempat-tempat yang asyik untuk dikunjungi,
juga bagaimana orang berbagi dan saling peduli. Dan saat kamu siap untuk
bercerita mengenainya, jangan lupa untuk membaginya dengan mengirimkan surat
balasan untukku. Senang bisa bercerita dan berbagi denganmu kawan. Salam
Yogyakarta, 25 Juli
2012
Comments
Post a Comment