Kemarin secara nggak sengaja saya ketemu dengan Didi, temen seangkatan di Persma (Populis) Kampus. Saya di divisi penelitian dan pengembangan, dia di Iklan dan promosi. Yah, bisa dibilang kami cukup merepresentasikan kedua divisi tersebut (Bawaan karakter egois kali ya hahaha) Dia juga sempat bergabung di organisasi lepas kampus lain. Saya membawahi sub divisi media dan dia di event. Saya lanjut dan dia jarang nongol karena kesibukannya.
Sambil nongkrong di warung gampang pindahnya Mbak Jum, penjual jajanan di Sekre Persma kami, saya nyeletuk ke dia.
"Ga mampir ke sekre satunya di?"
"Lagi pengen fokus ke kerjaan yang ada recehnya ned"
"Kalau mau sih aku bisa urusin"
"Ga enak. Pengen membedakan yang proyek idealis sama bener-bener buat duit"
Setelah itu ia pergi entah kemana. Dan jawaban darinya masih tertinggal di tempat duduk saya.
Yah, sedikit banyak urusan uang diam-diam menjadi kekhawatiran bagi beberapa teman. Saya juga, tapi mungkin tidak terlalu banyak dibandingkan dengan keinginan untuk tetap bisa berkerja sesuai bidang dan mampu bertahan.
Sejak semester pertama, entah mengapa saya seringkali terlibat dengan kegiatan yang beragam. Di semua kegiatan ini, jarang saya mendapatkan pekerjaan superior. Maksudnya langsung menjadi poros untuk mengatur semuanya. Pekerja kasar, teknis.
Cukup melelahkan memang terkadang. Tapi diam-diam dari situ saya belajar melihat bagaimana menghargai diri sendiri dan karya pribadi. Menyusun konsep memang menyenangkan, tapi seringkali hanya menjadi konseptor di usia muda membuat kita lupa pada kenyataan di sekitar. Melihat hanya pada satu momen tanpa melihat efek jangka panjang. Berfikir terlalu dalam, dan kecewa besar di saat gagal.
Berkerja teknis sambil belajar mau nggak mau turut mempertimbangkan yang namanya uang. Sudah sering terdengar kegiatan mahasiswa dan anak muda gagal karena ga ada uang. Di sisi lain, ga sedikit juga organisasi pemuda yang cuma jadi tunggangan dan berantakan juga karena uang.
Untuk urusan uang memang ga gampang, terlebih jika itu menyangkut teman. Uang menjadi ukuran profesionalisme paling standar dalam menilai pekerjaan. Selama ada pemasukan dan porsi yang tepat, tidak akan ada masalah berarti.
Karena terbiasa dengan penilaian yang seperti ini juga, kemudian saya sering menyingkirkan urusan perasaan orang ketimbang melihat pekerjaan yang tidak selesai. Begitu juga yang saya harapkan dari lingkungan. Jahat? Mungkin. Tapi saya lebih senang pekerjaan selesai dan semua senang. Bukan senang di awal tapi berantakan di belakang.
Tolak ukur apresiasi dari sini menjadi lebih mudah. Bagaimana kita mampu mengukur standar diri dan menyesuaikan antara keinginan dengan kebutuhan. Bagaimana kita dapat percaya dengan kemampuan dan menjadikannya sebagai sumber kehidupan. Sinis mungkin, tapi di sinilah kita bisa melihat, apa yang telah kita bangun ga cuma dipajang, tapi juga menjadi bukti utuh diri kita.
Comments
Post a Comment