Jadi...saya pertama kali mendengar soal dyslexia pas baca partikel karya dee. Soal gimana Zarah ngajarin temennya yang ekspatriat afrika, tapi dyslexia. Begitu si Zarah udah berhasil ngajarin temennya dengan metode belajar buat penderita dyslexia, eh temennya pergi ngikutin bapaknya yang ke luar negri. Mereka akhirnya bertemu kembali.
Saya ga akan banyak ngomong soal partikel, tar dikirain spoiler. Soal dyslexia juga, video di atas cukup buat njelasin gejala itu. Nah, tim yang bikin video itu kebetulan tembus dalam sebuah lomba tahunan di Bangkok. Tim mereka bakal berangkat tanggal 8 Maret besok.
Selain kompetisi yang langsung, ada juga kompetisi via socmed, banyak-banyakan like di facebook gitu. Batasnya 8 Maret juga. nih, link buat ngelike mereka ---> GSVC Indonesia-Bamboo team
Yah, itung-itung ngedukung salah satu anak bangsa di kancah internasional (ceileee... bahasanya...)
Dengan banyaknya like sih, kalau saya emang ga dapa keuntungan lebih. Tapi kalau jangka panjangnya, lebih ke nunjukin perhatian ke dyslexia dan pengembangan secara alternatif bagi masyarakat secara luas, dan di Indonesia ada yang bikin software buat anak-anak penderita dyslexia.
Sedikit prakata dari pengembang softwarenya bisa dilihat di video ini
Yah gitu dulu. Semoga tim tersebut berjaya dan bisa bikin harum nama bangsa (dan almamater tercinta :D)
Comments
Post a Comment