Skip to main content

Gadget Gap

Baru-baru ini ketika berkumpul dengan teman, sebuah obrolan dari dunia maya di bagian saya tidak terlibat dan memilih keluar darinya muncul. Mengenai perbedaan pendapat dan cara yang digunakan dalam menyikapinya. Sebuah topik membosankan dan sudah berulangkali terjadi. Secara langsung saya pribadi meminta untuk dimasukkan dalam bagian ini. Mengapa saya minta dimasukkan karena memang sudah kebiasaan untuk melihat langsung dan tidak hanya ngobrol di belakang orang yang diomongkan. Tapi hal itu tidak terjadi. Perdebatan yang terjadi di sana dianggap tak lebih sebagai guyonan dan angin lalu di dunia nyata. Berharap setelah lama mengendap tidak dibahas akan selesai dengan sendirinya.

Sebagai orang yang pernah menikmati menjadi asosial, dunia maya bagi saya pribadi adalah ruang suci. Sanctuary. Di dunia tak mengenal satu sama lain tapi saling akrab. Batasan moral hilang dan objektivitas benar-benar menjadi pegangan. Sarkas adalah hal yang biasa. Satu menyerang dengan pintar dan yang lain menunggu waktu untuk dapat membalas. Sangat terbuka dan biasa.

Sampai kemudian negara api menyerang...

Hahaha....maksudnya sampai kemudian internet menjadi satu hal yang biasa. Semua orang memindahkan batasan dunia nyata dan maya ke garis pinggir. Dan mereka yang sebelumnya pernah ada di sana harus memilih; menciptakan ruang baru, berkompromi dengan mereka yang baru masuk, atau benar-benar meninggalkan ruang itu. Sebuah gap antar generasi kembali menjadi sebuah persoalan dalam pergeseran batasan ini.

Batasan gap antar generasi gadget mungkin disadari oleh sebagian besar mereka yang lahir dan besar di era transisi. Transisi antara mereka yang akrab dengan gadget dan tidak. Kebanyakan mereka yang lahir dan besar di rentang waktu 90an. Mengalami masa bermain di lapangan dan bermain di dalam ruangan. Menjadi manusia-manusia yang cenderung berbeda dalam menyikapi kencangnya perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat di sekitarnya. Secara tidak langsung juga, perbedaan di antara mereka yang terlahir sebagai generasi transisi menjadi pilihan dalam menciptakan aturan.

Seperti hipotesa mengenai mereka pilihan dalam menyikapi menyeruaknya dunia nyata ke dunia maya, kesadaran di antara generasi transisi ini tidak banyak dirasakan oleh generasi sebelum dan sesudah gadget. Tidak banyak yang memilih untuk menjaga kemurnian dunia maya secara tradisi. Tradisi kebebasan mengemukakan pendapat, menilai objektivitas sebuah pendapat, memisahkan apa yang pantas untuk dirasakan dan dijalani di antara dua dunia ini. Satu hal yang biasa ketika di era ini, kedangkalan menjadi kebiasaan. Semua harus cepat. Tak apa cetek, yang penting selalu ada. Tak apa cetek, tanpa tahu secara mendalam. Nanggung.

Nanggung juga ketika nongkrong, bahasan yang muncul lebih apa yang ada di layar kaca. Bukan layar kaca 20 inchi lagi, tapi layar kaca 3-7 inchi. Bukan pada apa yang benar-benar dijalankan dan dirasakan di kehidupan. Keakraban lebih pada banyaknya intensitas bersinggungan di dunia maya. Bukan nyata.

Buat saya pribadi, perbedaan sikap dalam menyikapi dunia gadget ini tidak kemudian mengharuskan sebuah aturan dipaksakan. Biarkan semua orang memilih jalannya sendiri. Saling mempertahankan dan dapat belajar apa yang harus dilakukan. Tak usah berteriak lantang ketika benar, tapi juga secara ksatria mengaku ketika memang salah. Tanpa itu, dunia maya dan nyata hanya akan menjadi pihak yang disalahkan ketika belum ada aturan yang dijadikan patokan.

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...