Skip to main content

Prek BBM naik



Ini sekedar pengungkapan kekesalan yang bodoh. Yeah, banyak orang yang bertanya sebenarnya mengapa BBM perlu naik. Mengapa kenaikan BBM bikin banyak orang kesal. Dan mengapa BBM jadi persoalan yang tak kunjung selesai.

Oke, saya mulai dari pengalaman sendiri. Kebetulan saya pernah tinggal di luar Jawa. Kalimantan tepatnya. Seperti yang banyak diketahui orang, Kalimantan menjadi salah satu pulau utama penghasil tambang di Indonesia. Tapi, justru di sana, BBM sulit ditemukan, juga harganya ga karu-karuan. Itu di saat harganya normal.

Gambar dari http://jongfajar.blogspot.com/2012/03/elpiji-belum-aman.html

Banyak alasan mengapa BBM cenderung langka. Pertama, pengolahan minyak mentah tidak dilakukan di Kalimantan. Minyak mentah harus dibawa ke Jawa dulu, baru kemudian didistribusikan nasional. Dalam distribusi ini, seringkali lewat jalur laut. Di laut sendiri, ada kemungkinan minyak-minyak yang ada ini dimanipulasi. Manipulasinya bisa ke perusahaan dimana harga BBM industri lebih tinggi daripada harga BBM umumnya. Manipulasi ke perusahaan ini membuat perusahaan bisa menurunkan ongkos produksi, dengan memberikan keuntungan kepada pihak yang berwenang. wujudnya suap.



Kedua, manipulasi BBM bisa dilakukan dengan cara, mengurangi pasokan dari Pom Bensin (SPBU) dengan dijual kepada penjual eceran. Biasanya kedua pihak ini saling berhubungan diam-diam ketika pasokan BBM datang. Di luar Jawa, Pom Bensin tidak merata, sehingga bensin eceran pinggir jalan menjadi harapan ketika tangki bensin mulai kosong.

Gambar dari http://we-care-we-share.blogspot.com/2012/06/mitan-bersubsidi-merembes.html
Pernah kejadian di tempat saya tinggal. Di Kota saya tinggal ada 3 Pom bensin awalnya. Nyaris setiap hari bensin cepat habis. Lucunya, tak jauh dari Pom ini, banyak bertebaran penjual bensin eceran. Harga normal dari SPBU 4500, dijual antara 7000-10000. Lalu sebuah pom bensin baru muncul. Ia buka setiap hari. Selisih harga yang cukup jauh membuat orang-orang yang rumahnya jauh dari situ rela mengantri di SPBU baru ini. Masyarakat pelan-pelan meninggalkan bensin eceran yang harganya gila-gilaan. Penjual bensin eceran mau tak mau menurunkan harga bensin eceran ke harga normal. 5000 per liternya.

Saking terbiasanya dengan harga bensin yang gila-gilaan, pengumuman naiknya harga bensin oleh SBY bagi masyarakat di daerah saya seolah hanya angin lalu. Alih-alih demo, masyarakat lebih memilih untuk mengirit bensin. Bukan apa-apa, mereka dapat bensin secara teratur saja sudah bersyukur.

Mengenai dampak kepada harga barang juga. Masyarakat di daerah Kalimantan seolah sudah kebal dengan isu itu. Tanpa kenaikan BBM, harga barang sudah sangat tidak manusiawi. Pengusaha dari Jawa seringkali sudah berusaha menjual barang dengan harga yang murah, mengingat derasnya produk Malaysia yang lebih miring di pasaran Kalimantan. Hanya saja, pungli-pungli mulai dari pelabuhan, transport, sampai ke perijinan membuat harga produk negri sendiri menjadi lebih gila harganya. Akibatnya, banyak pengusaha daerah asli Kalimantan menyerah untuk mendistribusikan barang dari Pulau Jawa. Celah ini dimanfaatkan oleh cukong-cukong yang berhasil memotong alur distribusi dari pelabuhan untuk memonopoli kebutuhan pokok masyarakat. Mereka berani berspekulasi dengan mengurusi pungli, lalu menjual dengan harga tinggi karena memang punya modal, dan yakin jika dagangannya laris di pasaran.

Terbiasa dengan susahnya berurusan dengan BBM ini kemudian membuat banyak orang cenderung apatis dengan perubahan. Banyak orang yang melihat, penarikan subsidi BBM lumayan berperan kepada APBN negara sehingga bisa disalurkan ke lini lain yang lebih penting, pendidikan dan kesehatan misalnya. Pengurangan subsidi BBM ini kemudian mau tak mau membuat orang-orang berpikir dua kali untuk menggunakan transportasi pribadi. Selain lebih ngirit, juga mengurangi dampak polusi.

Dari sisi lain, mengurangi ketergantungan kepada BBM membuat orang lebih bisa melihat alternatif energi lain, seperti energi terbarukan (PLTA, PLTH dll). Energi terbarukan yang relatif berkaitan dengan pengembangan teknologi, mampu membuat masyarakat berusaha lebih dalam mengurus dan terlibat di dalam manajemen energi ini. Teknologi alternatif yang lebih mahal dan cenderung didistribusikan secara massal membutuhkan banyak negosiasi antar personal. Berbeda dengan BBM yang cenderung dikontrol pemerintah, dan akses terhadapnya tak terbatas. Siapa saja bisa beli motor, siapa saja bisa beli mobil.

Ide yang menarik. Hanya saja, kegalauan yang diungkapkan oleh PRESIDEN tercinta atas kritik masyarakat terhadap kenaikan BBM, menunjukkan seolah pemerintah tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan solusi alternatif bbm lainnya. Kalaupun ada, usaha ini cenderung tak terlihat atau sia-sia. Bukan hal yang aneh lagi, keberhasilan dalam manajemen pemerintahan, seringkali jadi rebutan demi menarik perhatian atasan. Disuruh mengirit BBM, tapi transportasi umum dan infrastruktur hancur. Oke, bolehlah sengsara duluan sambil menunggu proses perbaikan berjalan. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menggunakan transportasi umu. Tapi telat di jalan, keringetan di ruangan, dan masih ditambah dengan pemandangan pejabat sang pengumbar janji menghambur polusi. Dikawal polisi, menebarkan arogansi, dan juga sok menang sendiri. Siapa yang kemudian mau percaya dengan perubahan yang katanya ada, dan mengorbankan diri sendiri demi janji-janji yang tak sejernih bensin murni.



Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...