Saya jengah. Jengah dengan cara-cara yang digunakan oleh banyak orang sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan. Menjual segala jenis kebaikan sebagai ruang untuk melakukan apa yang dianggap baik dan menjadi alasan justifikasi pihak-pihak lain untuk mencapai tujuan.
Saya sendiri mungkin termasuk dalam golongan tersebut. Melihat bagaimana sisi kehidupan yang lain sebagai ruang hitam yang kelak membuat orang-orang di sana tetap terperangkap dan tak mampu keluar darinya. Sementara itu, ada mereka, dalam ruang terang kehidupan, tak bisa melihat batas abu-abu antara ruang gelap dan terang. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan adalah memaksa. Menarik mereka dalam ruang gelap untuk pergi ke ruang terang. Tak memberi kesempatan untuk melihat kembali, apa yang mereka miliki di sana.
Menerobos masuk dengan obor-obor terang menyilaukan. Pada akhirnya, mereka di ruang gelap ini tersiksa. Mata mereka terbakar. Buta.
Sementara itu, ada juga yang takut gelap. Sekedar mampu berteriak-teriak kepada orang-orang dalam ruang gelap, dan lelah sendiri. Ditinggalkan. Padahal, ruang abu-abu yang sempit, menghapus batas kedua sisi ini. Tak ada terang dan gelap. Yang ada adalah persinggungan di antara keduanya. Saling bertukar kisah. Saling belajar. Tanpa memaksa sang terang menjadi gelap dan gelap menjadi terang. Tak perlu berpura-pura untuk dapat diterima.
Saya sendiri mungkin termasuk dalam golongan tersebut. Melihat bagaimana sisi kehidupan yang lain sebagai ruang hitam yang kelak membuat orang-orang di sana tetap terperangkap dan tak mampu keluar darinya. Sementara itu, ada mereka, dalam ruang terang kehidupan, tak bisa melihat batas abu-abu antara ruang gelap dan terang. Pada akhirnya, yang bisa dilakukan adalah memaksa. Menarik mereka dalam ruang gelap untuk pergi ke ruang terang. Tak memberi kesempatan untuk melihat kembali, apa yang mereka miliki di sana.
Menerobos masuk dengan obor-obor terang menyilaukan. Pada akhirnya, mereka di ruang gelap ini tersiksa. Mata mereka terbakar. Buta.
Sementara itu, ada juga yang takut gelap. Sekedar mampu berteriak-teriak kepada orang-orang dalam ruang gelap, dan lelah sendiri. Ditinggalkan. Padahal, ruang abu-abu yang sempit, menghapus batas kedua sisi ini. Tak ada terang dan gelap. Yang ada adalah persinggungan di antara keduanya. Saling bertukar kisah. Saling belajar. Tanpa memaksa sang terang menjadi gelap dan gelap menjadi terang. Tak perlu berpura-pura untuk dapat diterima.
Comments
Post a Comment