Skip to main content

Sama

Minggu ini kembali saya diperlihatkan, bagaimana tekad disertai dengan kenekadan (dengan bekal pengalaman) berbicara banyak di lapangan. Tentang bagaimana keyakinan mampu membuat seseorang bersabar dalam menjalani apa yang sudah menjadi keyakinan. Di sisi lain, ada juga orang-orang, bahkan yang terdekat sekalipun, merasa bosan. Bukan karena tidak ada yang dikerjakan, tapi lebih karena banyaknya keinginan.

Untuk yang pertama, saya katakan, mereka sudah memilih. Dan mereka akan bertemu dengan orang-orang yang sudah memilih juga. Tanpa perlu banyak tanya. Tanpa perlu banyak wacana. Yang penting, caranya tidak berlawanan dengan apa yang mereka yakini. Tak heran jika orang-orang seperti mereka terkenal vokal. Karena, secara struktur sosial sendiri, pilihan hidup mereka bukanlah cara orang kebanyakan. Tersembunyi dalam keseragaman, dan menonjol terang-terangan ketika apa yang mereka simpan di belakang, keluar di permukaan.

Bagaimana mereka memilih kebenaran ketimbang kedudukan dan kebosanan dalam kepura-puraan. Bagaimana juga mereka benar-benar tahu, dan mau, memilih meninggalkan kedudukan yang tentunya sepadan dengan apa yang sudah mereka jalani selama ini. Mereka bisa, memilih untuk menjalani hidup yang nyaman, dan tetap menyuarakan perubahan. Tapi mereka sadar, bahwa pilihan itu akan memberikan beban. Bahwa tidak semua orang mau menerima apa yang mereka katakan kegika ada kepentingan di belakang. Tentang bagaimana satu tujuan, diartikan dalam berbagai rupa cara, tanpa tahu masalah sebenarnya ketika proposal datang tiba-tiba itulah pilihan, itulah keyakinan, dan itulah esensi perubahan, yang sedikit oleh banyak orang

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...