"We reach the point where we realized so many thought about happiness. They said, happiness start by make peace with ourself. Find your own peace, and then your own happiness, then you can find it with others. Meanwhile we misinterpreted it because we are terrified to trust other as we are easily hurt and then happiness within yourself invented. What we really do is we can't allow anyone else's issues to stand in the way of our happiness. And we think it will be more at peace. And our heart got colder as we grow older, and forgot that we are social animals. to see worthwile person that always have each other's backs, rather than judge them. To feel rather than choose the thought"
Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah, kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan" "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...
Comments
Post a Comment