Skip to main content

Proyek

Sejujurnya, aku pengen ketawa melihat teman-teman yang seolah berjuang untuk ideologinya, tetapi ternyata justru tak mengerti esensinya. Tapi tidak untuk teman-teman yang berjuang dan bisa menjelaskan dengan argumentasi penuh dasar kuat. aku salut sama mereka. Sayang, jumlahnya tak seberapa. Dan jarang sekali akhirnya orang-orang seperti itu akhrnya bisa maju dan merubah perjalanan bangsa ini. Seperti bapakku

Bapak sebenarnya tak pernah berniat bersentuhan dengan politik. Beliau hanyalah seorang yang mencoba menjadi abdi rakyat yang baik. Meniti karir bertahun-tahun sampai akhirnya naik pangkat. Sebuah kedudukan yang cukup prestisius di tempatnya berkerja. Bertemu muka dengan orang penting dan berpengaruh adalah hal yang biasa. Proyek demi proyek berjalan dengan lancar. Cukup untuk membuat anak buahnya tersenyum ketika mereka bisa membuat negri ini menuju ke arah yang lebih baik.

Semua baik-baik saja, sampai satu ketika, sebuah proyek pengadaan infrastruktur pengembangan sumber daya di tempatnya berkerja bermasalah. Bukan hal yang mengherankan memang kalau setiap kali proyek dari pemerintah turun, banyak kebocoran yang muncul. Bapak juga paham akan hal itu. Tapi untuk sekali ini, kebocoran itu sudah terlalu parah.

Bapak protes. Bukan apa-apa, nyawa anak orang yang jadi taruhan kalau proyek ini tidak dijalankan dengan semestinya. Pada akhirnya masalah ini selesai. Sedikit main belakang sih, tapi yang penting nggak ada nyawa yang hilang. Proyek ini berlanjut dan ketika mendekati akhir, sebuah kejutan datang.

Tanda tangan bapak tertera dalam sebuah surat pernyataan dari sebuah LSM yang ditujukan kepada Polda. Surat itu berisi laporan tentang kecurangan yang dilakukan oleh orang-orang penting. Terang saja orang-orang penting itu merasa bapak telah berbuat kurang ajar dengan menandatangai surat laporan tersebut. Mereka menganggap masalah itu telah diselesaikan meski diam-diam. Bapak sendiri juga kaget, karena beliau nggak pernah menandatangani surat tersebut. Sayang, orang-orang penting itu terlanjur berang.

Nggak perlu kuceritakan kelanjutannya. Pendek cerita, persoalan ini selesai. Tapi ada orang yang menjadi korban. Ada orang yang menjadi kambing hitam. Bapak.

Laporan itu dianggap palsu dan bapak dianggap mencemarkan nama baik orang-orang penting di kabupaten. Jabatan bapak diturunkan dan beliau nyaris dipenjara, tapi tidak jadi. Ada isu bapak akan dimutasikan ke daerah terpencil, syukurnya masih ada teman-teman beliau. Bapak akhirnya tidak jadi dimutasikan. Tapi beliau tetap disingkirkan. Beliau ditugaskan melanjutkan kuliah ke jenjang S2.

Setelah selesai kuliah, posisi bapak di dinas beliau berkerja juga tak jelas. Sempat nyaris menduduki posisi penting lagi, tapi orang-orang penting merasa tidak aman. Dengan sengaja karir bapak diambat. Akhirnya beliau diberikan posisi yang mengharuskan beliau tidak bersentuhan secara langsung dengan perkerjaan yang memiliki hubungan dengan pemerintahan. Posisi yang nyaman tanpa harus banyak menerima beban.

Kejadian yang dialami bapak membuatku benar-benar merasa takut untuk bersentuhan dengan politik. Merasa takut untuk pulang dan melanjutkan karir keluarga. Takut jika akhirnya keluarga kami terseret untuk yang kedua kalinya. Tak hanya sekali aku menolak tawaran berkerja di dinas kabupaten.

Aku sudah terlanjur muak. Aku sudah jengah bertemu dengan orang-orang yang jago ngomong, tapi isinya kosong. Aku sudah jijik dengan politik. Untuk saat ini. Mungkin 20 tahun lagi, aku akan jadi seperti mereka yang pernah menjerumuskan bapak. Tapi jalan yang aku pilih sekarang sama sekali tidak menyentuh yang namanya politik dan pemerintah. Semoga tetap begitu. Amin.

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...