Ah, malam.
selalu saja kau sepi.
tak bisakah sejenak kau pindahkan keramaian
kemudian rangkum kata-kata sebentar
karena sekarang Maya memaksaku duduk
sembari mengajak jari-jari menari
menggelitik lekuk tubuh papan ketik
Ah, Siang
Redupkanlah sejenak pelitamu itu
belum ingin aku keluar memandikan pagi
tulang tubuh rasanya lepas tak punya pelumas
setelah semalam Maya mengajakku pergi
ke dunia kedua kaca seratus ribu warna
Ah, Tuhan
tolong KAU simpan semua firman
cukup hati ini tahu bukan neraka tempatku
tak ada dosa yang bisa KAU hadirkan
dalam dunia maya ciptaanku
karena disini, tuhan adalah AKU
selalu saja kau sepi.
tak bisakah sejenak kau pindahkan keramaian
kemudian rangkum kata-kata sebentar
karena sekarang Maya memaksaku duduk
sembari mengajak jari-jari menari
menggelitik lekuk tubuh papan ketik
Ah, Siang
Redupkanlah sejenak pelitamu itu
belum ingin aku keluar memandikan pagi
tulang tubuh rasanya lepas tak punya pelumas
setelah semalam Maya mengajakku pergi
ke dunia kedua kaca seratus ribu warna
Ah, Tuhan
tolong KAU simpan semua firman
cukup hati ini tahu bukan neraka tempatku
tak ada dosa yang bisa KAU hadirkan
dalam dunia maya ciptaanku
karena disini, tuhan adalah AKU
Comments
Post a Comment