Sudah seminggu lebaran lewat. Arus balik juga sudah mulai tidak sepadat arus mudik. Rumah-rumah di desa menjadi sepi, dan kota semakin padat dengan barang-barang serta orang-orang yang hendak mencari harapan.
Apa yang tersisa kemudian? nggak ada. Bahkan kenangan tentang lebaran itu sendiri sepertinya sudah terlalu rutin sehingga tidak ada hal baru yang akan disimpan dalam kenangan.Setiap tahun, semuanya tetap saja sama.
Lama-lama, lebaran seakan hyanya sekedar menjadi software. Seakan memogram orang-orang untuk berjalan laiknya zombie tanpa ada bantahan. Tiap lebaran semua mudik, kita ikutan mudik. Semua beli baju, kita ikutan. Semua ngasih angpao, kita ikutan. Lalu bagaimana yang nggak bisa? Siap-siap aja diliatin sama anggota keluarga yang lain dan memendam sedikit rasa sakit hati karena diabaikan.
Mana esensi kemenangan setelah menahan nafsu setelah sebulan? Bullshit. Hanya sekedar puasa sebulan aja, terus kita seolah bebas melepaskan apa yang tertahan sekenanya. Lebaran nggak lagi dirayakan dengan hati, hanya sekedar menjadi kewajiban. Supaya nggak dikucilkan. Supaya nggak sekedar diremehkan.
Lantas apa bedanya lebaran dengan kentut?
Coba kita ambil beberapa aspek saja dalam lebaran. SMS. Dari sekian banyak sms yang masuk ke inbox pada saat lebaran, berapa yang akhirnya terbalas dan dibaca. Sedikit. Dari sekian banyak kunjungan dari tetangga dan kolega, berapa yang berkesan? nggak ada yang berkesan dari masuk rumah, salaman, terus pergi lagi karena masih ada gerombolan lain yang mengantri di depan pintu hanya untuk salaman.
Semuanya akhirnya diabaikan. Nggak ada "nyawanya". Seolah melakukan saja itu cukup. Padahal ada yang lebih penting di dalamnya. Menyampaikan perasaan rindu karena lama tak bertemu. Menyampaikan kabar bahwa memang kita ingin meminta maaf dari dalam hati sebaik-baiknya. Tidak sekedar asal jalan, asal ngasih uang, dan asal ketemu.
Comments
Post a Comment