Sudah 3 kali setiap tahunnya aku melihat muka-muka baru berkeliaran di kampus. Selalu ada wajah-wajah polos penuh harapan serta ekspresi kebebasan setelah akhirnya mereka lepas dari bangku sekolah. Bebas tanpa seragam. Bebas tanpa setumpuk buku pelajaran. Dan bebas untuk menafsirkan apa itu arti kehidupan. Mungkin iya, dan mungkin juga tidak. Sudah lama aku tidak bersentuhan dengan sekolah. Tak tahu, apa yang saat ini menjadi fokus dan juga tren untuk diikuti dan diimani. Tapi aku yakin, setidaknya selalu ada hal yang tidak akan berubah dari masa sekolah.
Banyak yang bilang kalau masa paling indah itu masa-masa di sekolah. Khususnya di bangku sekolah menengah. Saat dimana logika dan juga pengalaman menentukan apa yang akan dilakukan di masa depan. Belajar mengerti apa itu rasa sayang, perhatian juga keputus asaan. Mengerti arti sesungguhnya persahabatan tanpa interpretasi kebutuhan akan uang. Serta tetap belajar untuk selalu kurang ajar. Mengata-ngatai guru yang menyebalkan. Mengintip situs-situs dewasa di komputer saat pelajaran. Saling menukar jawaban di waktu ulangan.
Kenakalan-kenakalan itu seperti begitu indah. Sampai akhirnya, gerbang bernama kedewasaan mulai terbuka. Mulai merasakan bagaimana sebenarnya dunia nyata. Yah, sekolah semakin lama seolah menjadi benteng pisau bermata dua. Di satu sisi kita dididik untuk tetap duduk diam mendengarkan nasihat bahwa sekolah penting untuk masa depan. Di sisi lain, kita juga diajarkan untuk mempertahankan hidup dengan masa bodoh terhadap sekitar. Tanpa ilmu juga pengalaman bagaimana caranya berjalan bersama orang-orang di sekitar. Kita semakin asing terhadap aturan-aturan tak tertulis yang usianya melebihi usia kakek dan nenek.
Menghadapi persoalan seperti itu, ada sedikit rasa bersyukur aku lahir sebagai generasi percobaan. Generasi dimana banyak sekali kebijakan mengenai pendidikan diotak-atik sesuka hati pemegang kebijakan. Generasiku adalah generasi pertama yang mengalami perubahan sistem caturwulan ke semester, perubahan kurikulum 1994 menjadi kurikulum entah tahun berapa, kemudian beralih lagi kepada kurikulum berbasis kebingungan (KBK). Bahkan di saat kuliah, generasiku mengalami lagi yang namanya perubahan kurikulum kampus.
Perubahan lingkungan sosial politik juga turut dirasakan di generasiku. 1998 menjadi poros dari semua perubahan itu. Soeharto turun, Krisis di segala dimensi, ketidakberaturan politik, otonomi daerah, kerusuhan berdasarkan SARA, Kebebasan informasi, KKN yang merajalela. Semuanya seolah memang memilih untuk terjadi di saat anak-anak seumuranku mulai membuka pikiran juga pandangan.
Perubahan-perubahan tersebut bukan untuk disombongkan. Nggak ada yang indah dari itu semua. Tapi setidaknya, ada perbedaan antara orang-orang seumuranku dengan yang lebih tua atau lebih muda. Kalau boleh menilai, sebagai generasi transisi, teman-teman seangkatanku lebih memiliki karakter yang matang dibandingkan dengan angkatan sebelum dan sesudah. Dan karakter ini juga muncul di usia yang dinilai cukup matang. Generasi transisi terbiasa untuk menghadapi perubahan secara global dan menyikapinya dengan sudut pandang masing-masing. Penilaian ini memang subjektif. Masih banyak variable lain yang diabaikan untuk mengatakan sebuah generasi bisa dikatakan matang secara karakter.
Pada akhirnya, nggak penting siapa yang menyandang label generasi transisi. Itu hanyalah sekedar label terhadap apa yang terjadi pada teman-teman seusiaku dan juga apa yang kemudian menjadi pilihan dari masing-masing kami. Semua bisa, dan semua berhak memakai nama generasi transisi. Yang penting, tetap menjadikan hidup berarti
Comments
Post a Comment