Posisi antara orang tua dan anak di dalam keseharian kita, aku rasa membuat kita lupa untuk saling memandang sebagai sesama manusia sejajar. Maaf, bukan bermaksud untuk tidak sopan atau gimana, tapi, kebayang nggak sih kalau keseharian ortu bisa saja berbeda antara di rumah dan di lingkungan. Peran yang dimainkan sebagai orang tua membuat diri merasa sulit untuk come-out tampil sebagai diri sendiri karena tekanan normatif lingkungan dll. Orang tua merasa nyaman dan memperlakukan kita sebagai si unyil tadi sore karena memang kita tampil sebagai UNYIL. Sok baik dan seolah nggak ada apa-apa.
Pelan-pelan, satu tembok berhasil dibuat. Tembok kebisuan penuh kepura-puraan. Mungkin masing-masing saling bisa memahami satu sama lain tanpa harus ada bicara. Tetapi bayangkan kalau tembok ini nggak ada. Kelegaan dan perasaan kebebasan penuh tanggung jawab setidaknya akan lebih mudah untuk keluar ketimbang harus munafik sama diri sendiri kemudian melanggar segala macam aturan saat tidak kelihatan.
Lalu, sebenarnya, mengapa semua ini terjadi?
Dalam masyarakat penuh nilai ini, nggak heran kalau segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan yang namanya ikatan kesopanan. Salah satu contoh simpelnya adalah, di dalam masyarakat lama, ketika orang tua bicara, sangat tidak sopan jika anak berani menjawab. Nilai ini tertanam kuat tanpa ada pendalaman kepada setiap perubahan. Dan selayaknya ospek, semua berulang dan terus berulang. Ortu meniru apa yang dilakukan simbah dalam menghadapi anaknya. Ortu mencoba untuk membalas dendam secara halus kepada simbah, tetapi dilampiaskan kepada anak. Siklus ini akan terus berulang jika tidak ada pihak yang mau mengalah -entah anak, entah ortu- untuk ngomong duluan. B*llshit rule, anggep aja kaya gitu ketika berhadapan sama yang namanya aturan tanpa ada dasar pemikiran.
Pelan-pelan, satu tembok berhasil dibuat. Tembok kebisuan penuh kepura-puraan. Mungkin masing-masing saling bisa memahami satu sama lain tanpa harus ada bicara. Tetapi bayangkan kalau tembok ini nggak ada. Kelegaan dan perasaan kebebasan penuh tanggung jawab setidaknya akan lebih mudah untuk keluar ketimbang harus munafik sama diri sendiri kemudian melanggar segala macam aturan saat tidak kelihatan.
Lalu, sebenarnya, mengapa semua ini terjadi?
Dalam masyarakat penuh nilai ini, nggak heran kalau segala sesuatunya selalu dikaitkan dengan yang namanya ikatan kesopanan. Salah satu contoh simpelnya adalah, di dalam masyarakat lama, ketika orang tua bicara, sangat tidak sopan jika anak berani menjawab. Nilai ini tertanam kuat tanpa ada pendalaman kepada setiap perubahan. Dan selayaknya ospek, semua berulang dan terus berulang. Ortu meniru apa yang dilakukan simbah dalam menghadapi anaknya. Ortu mencoba untuk membalas dendam secara halus kepada simbah, tetapi dilampiaskan kepada anak. Siklus ini akan terus berulang jika tidak ada pihak yang mau mengalah -entah anak, entah ortu- untuk ngomong duluan. B*llshit rule, anggep aja kaya gitu ketika berhadapan sama yang namanya aturan tanpa ada dasar pemikiran.
Comments
Post a Comment