Skip to main content

Belajar melupakan, atau belajar mengulang?

Di satu kedai kopi semua itu tumpah. Yah, akhirnya teman saya membuka semua permasalahannya. Perasaan kesepian dan kehilangan. Ia tak tahu lagi mau bicara pada siapa, sampai-sampai orang yang biasanya ia hindari justru orang pertama yang ia hubungi.

"Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri"

Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah.

Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegoisan karena sadar tak ada yang bisa menahan darah muda yang panasan.

Di luar, kita bukan apa-apa. Bolehlah kita memiliki ego. Tapi itu setelah kita memiliki sesuatu yang ditukar dengan harga diri tinggi. Kemampuan dan pengakuan. Tanpa itu, kita bukan siapa-siapa. Di titik itulah saya berhenti. Titik dimana masing-masing hanya berteman karena merasa nyaman. Lalu menghilang di saat tak ada kepentingan.

Kita cenderung berusaha untuk hidup nyaman. Nggak salah memang. Tapi terkadang untuk mencapai itu, kita cenderung berusaha
menyingkirkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Cenderung melupakannya dan kembali melakukan kesalahan yang selalu berputar. Layaknya lingkaran setan, kesalahan tersebut seolah terlihat wajar.

Coba kita lihat orang-orang di sekitar kita. Semakin tua, kita cenderung berusaha untuk tidak mencampuri dan tidak mau tahu urusan orang lain. Kalaupun tidak, permasalahan seringkali justru sekedar dibiarkan mengambang.

Dibicarakan di belakang tanpa ada pengertian dan juga jalan keluar. Padahal, semua tahu dan bisa mengaca dari apa yang telah mereka rasa. Dan ketika sampai pada sebuah titik dimana tak ada lagi yang bisa menahan, semua meledak. Membiarkan hati terlukai lalu kehilangan harga diri.

Kenyamanan semu. Ketidakinginan mengganggu suatu sistem berjudul "Demi kenyamanan bersama" kemudian membangun ketakutan bersama. Terlihat tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Dan disaat kenyamanan ini runtuh, siapa yang akan menjamin, bahwa kesalahan yang sama tidak akan terulang.


Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...