Di satu kedai kopi semua itu tumpah. Yah, akhirnya teman saya membuka semua permasalahannya. Perasaan kesepian dan kehilangan. Ia tak tahu lagi mau bicara pada siapa, sampai-sampai orang yang biasanya ia hindari justru orang pertama yang ia hubungi.
"Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri"
Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah.
Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegoisan karena sadar tak ada yang bisa menahan darah muda yang panasan.
Di luar, kita bukan apa-apa. Bolehlah kita memiliki ego. Tapi itu setelah kita memiliki sesuatu yang ditukar dengan harga diri tinggi. Kemampuan dan pengakuan. Tanpa itu, kita bukan siapa-siapa. Di titik itulah saya berhenti. Titik dimana masing-masing hanya berteman karena merasa nyaman. Lalu menghilang di saat tak ada kepentingan.
Kita cenderung berusaha untuk hidup nyaman. Nggak salah memang. Tapi terkadang untuk mencapai itu, kita cenderung berusaha menyingkirkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Cenderung melupakannya dan kembali melakukan kesalahan yang selalu berputar. Layaknya lingkaran setan, kesalahan tersebut seolah terlihat wajar.
Coba kita lihat orang-orang di sekitar kita. Semakin tua, kita cenderung berusaha untuk tidak mencampuri dan tidak mau tahu urusan orang lain. Kalaupun tidak, permasalahan seringkali justru sekedar dibiarkan mengambang.
Dibicarakan di belakang tanpa ada pengertian dan juga jalan keluar. Padahal, semua tahu dan bisa mengaca dari apa yang telah mereka rasa. Dan ketika sampai pada sebuah titik dimana tak ada lagi yang bisa menahan, semua meledak. Membiarkan hati terlukai lalu kehilangan harga diri.
Kenyamanan semu. Ketidakinginan mengganggu suatu sistem berjudul "Demi kenyamanan bersama" kemudian membangun ketakutan bersama. Terlihat tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Dan disaat kenyamanan ini runtuh, siapa yang akan menjamin, bahwa kesalahan yang sama tidak akan terulang.
"Aku kok semakin tidak mengenal orang-orang yang dulu bisa membuatku bertahan ya? Mereka sendiri justru terlihat rapuh di tengah ketegaran yang mereka simpan. Seperti aku saat ini. Aku makin ga tahu diriku sendiri"
Kalimat demi kalimat justru membuat saya semakin sedih. Apa yang terjadi pada dirinya adalah cerminan saya di masa lalu. Tidak memiliki kepercayaan terhadap orang membuat saya bimbang. Membuat saya merasa ragu untuk melangkah. Bukan apa-apa. Semakin tua saya semakin sadar, bahwa memang kehidupan memerlukan keterkaitan. Terutama jika kita mulai melangkah ke luar rumah.
Di rumah, kita bebas untuk hidup sendiri. Tak perduli pada suara-suara yang kita benci. Orang tua pun seakan maklum. Makin menggilalah kita dengan keegoisan karena sadar tak ada yang bisa menahan darah muda yang panasan.
Di luar, kita bukan apa-apa. Bolehlah kita memiliki ego. Tapi itu setelah kita memiliki sesuatu yang ditukar dengan harga diri tinggi. Kemampuan dan pengakuan. Tanpa itu, kita bukan siapa-siapa. Di titik itulah saya berhenti. Titik dimana masing-masing hanya berteman karena merasa nyaman. Lalu menghilang di saat tak ada kepentingan.
Kita cenderung berusaha untuk hidup nyaman. Nggak salah memang. Tapi terkadang untuk mencapai itu, kita cenderung berusaha menyingkirkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Cenderung melupakannya dan kembali melakukan kesalahan yang selalu berputar. Layaknya lingkaran setan, kesalahan tersebut seolah terlihat wajar.
Coba kita lihat orang-orang di sekitar kita. Semakin tua, kita cenderung berusaha untuk tidak mencampuri dan tidak mau tahu urusan orang lain. Kalaupun tidak, permasalahan seringkali justru sekedar dibiarkan mengambang.
Dibicarakan di belakang tanpa ada pengertian dan juga jalan keluar. Padahal, semua tahu dan bisa mengaca dari apa yang telah mereka rasa. Dan ketika sampai pada sebuah titik dimana tak ada lagi yang bisa menahan, semua meledak. Membiarkan hati terlukai lalu kehilangan harga diri.
Kenyamanan semu. Ketidakinginan mengganggu suatu sistem berjudul "Demi kenyamanan bersama" kemudian membangun ketakutan bersama. Terlihat tegar di luar, tapi rapuh di dalam. Dan disaat kenyamanan ini runtuh, siapa yang akan menjamin, bahwa kesalahan yang sama tidak akan terulang.
Comments
Post a Comment