Tak kudengar lidahmu berkisah lagi
dari bola mata tanpa sinar
mencoba menulis meski hati menangis
jikalau perpisahan bukanlah sebuah kesedihan
tapi awal dari seratus kisah perjuangan
Ketika raga mulai enggan berbagi jiwa
selayaknya buku tua di pinggir kota
berputar-putar tanpa sadar membentuk lingkar
kau tetap tak bisa beranjak dari kursi lunak
lelap, pekat mengendap
Dan sekali lagi kau menanti
titik-titik kecil mengukir waktu
ke dalam barisan pesan kematian
tersembunyi oleh kekuatan hati
agar benih-benih itu tetap bermimpi
kau semai, bingkai dan akhirnya
bunga-bunga itu terangkai
rapat berbaris dalam isak tangis
sejenak tuan, ijinkan salam ini tersampaikan
sebagai doa dan harapan yang masih tersimpan
Untuk sebuah matahari pagi
dan untuk ribuan mata tanpa harga diri
mereka tetap membalik ribuan persoalan pelik
kemudian, tidur panjang tanpa keresahan
agar matahari tak sungkan datang
dari bola mata tanpa sinar
mencoba menulis meski hati menangis
jikalau perpisahan bukanlah sebuah kesedihan
tapi awal dari seratus kisah perjuangan
Ketika raga mulai enggan berbagi jiwa
selayaknya buku tua di pinggir kota
berputar-putar tanpa sadar membentuk lingkar
kau tetap tak bisa beranjak dari kursi lunak
lelap, pekat mengendap
Dan sekali lagi kau menanti
titik-titik kecil mengukir waktu
ke dalam barisan pesan kematian
tersembunyi oleh kekuatan hati
agar benih-benih itu tetap bermimpi
kau semai, bingkai dan akhirnya
bunga-bunga itu terangkai
rapat berbaris dalam isak tangis
sejenak tuan, ijinkan salam ini tersampaikan
sebagai doa dan harapan yang masih tersimpan
Untuk sebuah matahari pagi
dan untuk ribuan mata tanpa harga diri
mereka tetap membalik ribuan persoalan pelik
kemudian, tidur panjang tanpa keresahan
agar matahari tak sungkan datang
Comments
Post a Comment