Pelan-pelan ia membuka dompet tipisnya. Menghitung, berapa banyak uang tersisa. Teringat kembali apa yang dikatakan sang kekasih
"Nggak usahlah kau ikutan orang-orang. Sok peduli kasih sayang di tengah bulan. Padahal, setiap hari isinya pertengkaran. Sama saja kau berdusta dengan diri sendiri"
Yah, ia memang sempat ragu. Haruskah uang makan setengah bulan, ia korbankan demi perayaan kasih sayang. Ia memang bukanlah seorang yang berada. Tapi bolehlah sekali saja di dalam hidupnya, turut merayakan dan dianggap berharga oleh manusia lainnya.
Dan akhirnya, ia kembali terpekur di kursi sofa ruang keluarga. Memilih untuk duduk dan menyalakan televisi. Mendengar Ulama dan sejuta manusia putih lainnya berteriak. Bahwa merayakan Valentine membawa diri pada kekafiran. Mengatakan bahwa Valentine hanyalah sebuah tradisi luar yang ditanamkan sebagai sebuah pembenaran terhadap legalitas melakukan segalanya demi kasih sayang.
Merasa jengah, digantinya saluran televisi. Kali ini sebuah badut berwarna pink bergerak ke sana kemari sesuai arah kamera. Menyerang siapapun dengan pertanyaan, "Sudahkah kau ucapkan your my valentine hari ini?" sembari menunjuk-nunjukkan sebatang coklat bermerk mahal. Apabila yang ditanya mengatakan sudah dan terlihat kompak memakai baju yang senada dengan kekasihnya, sebuah voucher liburan ke bali segera dipamerkan. Bagi yang mau dan melakukan apa yang diminta oleh sang badut, maka Voucher liburan itu akan menjadi hak sang pasangan. Dan sesuai apa yang sudah diperkirakan, kedua pasangan tersebut melakukan apa yang diminta. Berlagak seperti orang kelebihan hormon cinta.
"Lho, kamu nggak jalan sama pacarmu le?" Ibunya tiba-tiba sudah ada di dalam rumah
Cepat ia bangkit dan mencium tangan wanita kesayangannya. Ia raih keranjang belanjaan dan meletakkannya di dapur.
"Kan sekarang valentine day" tenyata ibunya belum selesai menunggu jawaban.
Bahkan ibunya saja sampai mempertanyakan mengapa ia tak bersama kekasihnya di hari Valentine.
"Nggak ada uang bu. Belum ada objekan tambahan"
"Ya udah, nanti malam ajak saja ia makan malam bareng. Ibu sudah belanja lebih"
Ia tertegun. Tanpa banyak tanya ibunya sudah mempersiapkan segalanya. Selalu memperhatikan apa yang ia butuhkan, tapi tidak selalu memberikan yang ia inginkan.
"Merayakan valentine silakan. Tapi jangan kemudian terperangkap dengan anggapan bahwa kasih sayang hanya ada di hari valentine" lanjutnya kemudian
"Emang ibu setuju dengan valentine day?"
"Nggak juga. Ibu hanya mencoba mengerti apa yang sebenarnya kaum muda agung-agungkan dari hari ini. Ibu nggak mau cuma jadi orang-orang yang bisanya melarang, tapi justru semakin mendorong kalian ingin melakukan. Pada akhirnya, makin banyak yang lupa apa arti sebenarnya kasih sayang"
Tak ada lagi kata-kata yang ingin ia keluarkan. Ia cukup tahu bahwa ada kasih sayang yang memang berharga untuk dipertahankan di hari kasih sayang. Segera ia mencari nama kekasihnya di layar HP dan memencet tombol calling.
"Sayang, nanti dinner bareng di rumah yuk. Aku yang masak"
"Nggak usahlah kau ikutan orang-orang. Sok peduli kasih sayang di tengah bulan. Padahal, setiap hari isinya pertengkaran. Sama saja kau berdusta dengan diri sendiri"
Yah, ia memang sempat ragu. Haruskah uang makan setengah bulan, ia korbankan demi perayaan kasih sayang. Ia memang bukanlah seorang yang berada. Tapi bolehlah sekali saja di dalam hidupnya, turut merayakan dan dianggap berharga oleh manusia lainnya.
Dan akhirnya, ia kembali terpekur di kursi sofa ruang keluarga. Memilih untuk duduk dan menyalakan televisi. Mendengar Ulama dan sejuta manusia putih lainnya berteriak. Bahwa merayakan Valentine membawa diri pada kekafiran. Mengatakan bahwa Valentine hanyalah sebuah tradisi luar yang ditanamkan sebagai sebuah pembenaran terhadap legalitas melakukan segalanya demi kasih sayang.
Merasa jengah, digantinya saluran televisi. Kali ini sebuah badut berwarna pink bergerak ke sana kemari sesuai arah kamera. Menyerang siapapun dengan pertanyaan, "Sudahkah kau ucapkan your my valentine hari ini?" sembari menunjuk-nunjukkan sebatang coklat bermerk mahal. Apabila yang ditanya mengatakan sudah dan terlihat kompak memakai baju yang senada dengan kekasihnya, sebuah voucher liburan ke bali segera dipamerkan. Bagi yang mau dan melakukan apa yang diminta oleh sang badut, maka Voucher liburan itu akan menjadi hak sang pasangan. Dan sesuai apa yang sudah diperkirakan, kedua pasangan tersebut melakukan apa yang diminta. Berlagak seperti orang kelebihan hormon cinta.
"Lho, kamu nggak jalan sama pacarmu le?" Ibunya tiba-tiba sudah ada di dalam rumah
Cepat ia bangkit dan mencium tangan wanita kesayangannya. Ia raih keranjang belanjaan dan meletakkannya di dapur.
"Kan sekarang valentine day" tenyata ibunya belum selesai menunggu jawaban.
Bahkan ibunya saja sampai mempertanyakan mengapa ia tak bersama kekasihnya di hari Valentine.
"Nggak ada uang bu. Belum ada objekan tambahan"
"Ya udah, nanti malam ajak saja ia makan malam bareng. Ibu sudah belanja lebih"
Ia tertegun. Tanpa banyak tanya ibunya sudah mempersiapkan segalanya. Selalu memperhatikan apa yang ia butuhkan, tapi tidak selalu memberikan yang ia inginkan.
"Merayakan valentine silakan. Tapi jangan kemudian terperangkap dengan anggapan bahwa kasih sayang hanya ada di hari valentine" lanjutnya kemudian
"Emang ibu setuju dengan valentine day?"
"Nggak juga. Ibu hanya mencoba mengerti apa yang sebenarnya kaum muda agung-agungkan dari hari ini. Ibu nggak mau cuma jadi orang-orang yang bisanya melarang, tapi justru semakin mendorong kalian ingin melakukan. Pada akhirnya, makin banyak yang lupa apa arti sebenarnya kasih sayang"
Tak ada lagi kata-kata yang ingin ia keluarkan. Ia cukup tahu bahwa ada kasih sayang yang memang berharga untuk dipertahankan di hari kasih sayang. Segera ia mencari nama kekasihnya di layar HP dan memencet tombol calling.
"Sayang, nanti dinner bareng di rumah yuk. Aku yang masak"
Comments
Post a Comment