Dulu, jaman SMP kelas satu guru ekonomi saya pernah mengatakan,"Kebutuhan akan selalu bergeser bukan lagi berdasarkan tingkatan uang, tapi pemikiran"
Pada akhirnya, apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Kebutuhan primer bukan lagi sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sekunder bukan lagi pendidikan dan bahan bacaan. Namun tidak dengan kebutuhan tersier. Di saat semua pergeseran beralih ke arah bawah, kebutuhan tersier tetap pada tempatnya. Selalu berbeda dan mahal harganya.
Begitu juga dengan mimpi dan harapan. Semakin bertambah usia, pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan selalu berpindah-pindah posisinya. Seiring waktu pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan merangkak naik posisinya.
Ketika saya kecl, tak ada beban untuk mengatakan mau jadi apa di saat saya besar nanti. Begitu juga dengan teman-teman TK lainnya. Jika mereka melihat Susan menyanyi, kalau besar mau jadi dokter, semua mau jadi dokter. Ketika mereka melihat, menjadi wartawan adalah hal yang mengagumkan mereka semua ingin menjadi wartawan.
Impian tersebut mulai sedikit buram di tingkatan selanjutnya. Tuntutan untuk tetap mempertahankan ranking, nilai dan juga prestasi, membuat kita lupa ingin jadi apa kita sebenarnya. Lupa, bahwa kita pernah dengan lepas mengungkapkan keinginan. Justru di tingkatan selanjutnya, pendidikan memaksa kita meninggalkan apa yang kita inginkan dan bergerak menjadi apa yang diminta oleh industri pekerjaann.
Pada titik selanjutnya, di saat kita memiliki pilihan terakhir demi mewujudkan apa yang kita inginkan, yang muncul justru berbeda. Semakin kita tahu, semakin kita ragu. Mulailah mimpi-mimpi tersebut kita kubur dalam-dalam. Mulailah kita menjadi manusia tanpa impian. Sekedar mencoba bertahan di dunia yang semakin kehilangan kesempatan.
Lalu, apakah kita akan terus menyalahkan keadaan karena tidak ada mimpi yang dapat kita wujudkan?
Lalu, buat apa manusia hidup di dunia ketika akhirnya juga sama saja. Tua dan Mati?
Seringkali kita terlalu menyalahkan keadaan. Terperangkap dan kemudian berhenti berkembang. Berhenti melakukan karena terlalu tinggi menggantungkan impian. Pemimpi. Banyak orang-orang seperti itu di sekitar kita. Terlebih pada masa dimana semuanya istant. Berharap bahwa cerita Aladin dan lampu ajaib adalah kenyataan.
Dalam sebuah teori sosiologi yag dikemukakan seorang teman, seringkali dalam menciptakan impian, seseorang dipengaruhi oleh keadaan dan status sosial.
Orang miskin bermimpi di kemudian hari ia akan menjadi sejahtera. Orang yang hidup biasa-biasa saja bermimpi ia akan menjadi orang kaya. Sementara orang kaya bermimpi untuk dapat mengubah dunia.
Maka tak heran jika kemudian orang-orang yang melakukan perubahan adalah orang-orang yang telah mapan hidupnya. Setelah mereka mampu melewati fase-fase tingkatan impian kemudian mereka melompat pada tingkatan perubahan. Bagaimana jika kemudian dalam perputaran fase perubahan tersebut ada fase yang terputus. Kondisi berbalik dan apa yang sudah kita bangun kemudian musnah?
Tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa teori ini dapat dipatahkan. Saya banyak melihat bukti hidup dari orang-orang yang bertahan untuk mewujudkan apa yang mereka impikan. Mereka bukanlah orang-orang dari tingkatan yang dapat dikatakan mapan. Namun itu semua memang tak terjadi dengan instan. Perlu waktu dan juga energi yang besar.
Mereka yang percaya dengan mimpinya, selalu berbuat dengan apa yang mereka bisa. sekecil apapun yang mereka bisa lakukan, mereka wujudkan. Tetap menjaga impian mereka dan percaya bahwa mereka bisa. Tetap konsisten dengan apa yang mereka inginkan.
Pada akhirnya, impian-impian tidak lagi didasarkan pada tingkatan kebutuhan, tapi lebih kepada apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikannya kenyataan. Perubahan yang besar terjadi karena ada hal kecil yang dilakukan, bukan hanya sekedar mercusuar yang memancarkan sinar. Jauh dan tak tergapai.
Pada akhirnya, apa yang beliau katakan menjadi kenyataan. Kebutuhan primer bukan lagi sandang, pangan dan papan. Kebutuhan sekunder bukan lagi pendidikan dan bahan bacaan. Namun tidak dengan kebutuhan tersier. Di saat semua pergeseran beralih ke arah bawah, kebutuhan tersier tetap pada tempatnya. Selalu berbeda dan mahal harganya.
Begitu juga dengan mimpi dan harapan. Semakin bertambah usia, pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan selalu berpindah-pindah posisinya. Seiring waktu pelan-pelan saya merasakan bahwa mimpi dan harapan merangkak naik posisinya.
Ketika saya kecl, tak ada beban untuk mengatakan mau jadi apa di saat saya besar nanti. Begitu juga dengan teman-teman TK lainnya. Jika mereka melihat Susan menyanyi, kalau besar mau jadi dokter, semua mau jadi dokter. Ketika mereka melihat, menjadi wartawan adalah hal yang mengagumkan mereka semua ingin menjadi wartawan.
Impian tersebut mulai sedikit buram di tingkatan selanjutnya. Tuntutan untuk tetap mempertahankan ranking, nilai dan juga prestasi, membuat kita lupa ingin jadi apa kita sebenarnya. Lupa, bahwa kita pernah dengan lepas mengungkapkan keinginan. Justru di tingkatan selanjutnya, pendidikan memaksa kita meninggalkan apa yang kita inginkan dan bergerak menjadi apa yang diminta oleh industri pekerjaann.
Pada titik selanjutnya, di saat kita memiliki pilihan terakhir demi mewujudkan apa yang kita inginkan, yang muncul justru berbeda. Semakin kita tahu, semakin kita ragu. Mulailah mimpi-mimpi tersebut kita kubur dalam-dalam. Mulailah kita menjadi manusia tanpa impian. Sekedar mencoba bertahan di dunia yang semakin kehilangan kesempatan.
Lalu, apakah kita akan terus menyalahkan keadaan karena tidak ada mimpi yang dapat kita wujudkan?
Lalu, buat apa manusia hidup di dunia ketika akhirnya juga sama saja. Tua dan Mati?
Seringkali kita terlalu menyalahkan keadaan. Terperangkap dan kemudian berhenti berkembang. Berhenti melakukan karena terlalu tinggi menggantungkan impian. Pemimpi. Banyak orang-orang seperti itu di sekitar kita. Terlebih pada masa dimana semuanya istant. Berharap bahwa cerita Aladin dan lampu ajaib adalah kenyataan.
Dalam sebuah teori sosiologi yag dikemukakan seorang teman, seringkali dalam menciptakan impian, seseorang dipengaruhi oleh keadaan dan status sosial.
Orang miskin bermimpi di kemudian hari ia akan menjadi sejahtera. Orang yang hidup biasa-biasa saja bermimpi ia akan menjadi orang kaya. Sementara orang kaya bermimpi untuk dapat mengubah dunia.
Maka tak heran jika kemudian orang-orang yang melakukan perubahan adalah orang-orang yang telah mapan hidupnya. Setelah mereka mampu melewati fase-fase tingkatan impian kemudian mereka melompat pada tingkatan perubahan. Bagaimana jika kemudian dalam perputaran fase perubahan tersebut ada fase yang terputus. Kondisi berbalik dan apa yang sudah kita bangun kemudian musnah?
Tidak sedikit bukti yang menunjukkan bahwa teori ini dapat dipatahkan. Saya banyak melihat bukti hidup dari orang-orang yang bertahan untuk mewujudkan apa yang mereka impikan. Mereka bukanlah orang-orang dari tingkatan yang dapat dikatakan mapan. Namun itu semua memang tak terjadi dengan instan. Perlu waktu dan juga energi yang besar.
Mereka yang percaya dengan mimpinya, selalu berbuat dengan apa yang mereka bisa. sekecil apapun yang mereka bisa lakukan, mereka wujudkan. Tetap menjaga impian mereka dan percaya bahwa mereka bisa. Tetap konsisten dengan apa yang mereka inginkan.
Pada akhirnya, impian-impian tidak lagi didasarkan pada tingkatan kebutuhan, tapi lebih kepada apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikannya kenyataan. Perubahan yang besar terjadi karena ada hal kecil yang dilakukan, bukan hanya sekedar mercusuar yang memancarkan sinar. Jauh dan tak tergapai.
saya semakin yakin dengan mimpi saya. meski kata teman tak realistis, namun saya percaya, kekuatan Tuhan itu melebih kata "real" dalam logika manusia biasa. we just do the best, and then God will do the rest. ;)
ReplyDelete