Entah kau ingat atau tidak, dahulu kau pernah mengatakan tentang sebuah hukum kehidupan
"Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa"
Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu
Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang.
Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin.
Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit.
Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang.
Ke mukamu.
"Pyarrr..."
Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku.
Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki ini terpijak. Karena tanah buatku bermakna mewah, bukan sawah. Sementara, bayang mentari tertutupi oleh lembar-lembar kereta besi mewah berhiaskan emblem tiga palang.
Mereka membuatku malu. Aku seorang terpandang, bukan manusia jalanan.
Hidup selalu membuat orang mengaca pada siapa yang memegang kuasa.
Dan akulah sang adikuasa. Akulah pemegang jiwa seratus manusia.
Tapi di balik kehancuranmu, aku dibuat telanjang. Bugil, tanpa kesan penuh penghormatan.
Tak dibuat mengaca. Tak dibumbui lencana.
"Masing-masing dari diri kita terpantulkan melalui ruang kaca di setiap manusia yang kita jumpa"
Sejak itu kucoba tuk melihat diriku sendiri melalui dirimu
Tak lama memang. Tapi cukuplah tuk kembali melanjutkan tidur panjang yang terasa usang.
Seribu kali aku terbangun, dan kau tetap ada di hadapanku. Sengaja mengulang apa yang telah kulakukan. Persis seperti sebuah cermin.
Kau mengulang. Bukan mejiplak tepat secara detik juga menit yang terasa semakin menghimpit.
Ternyata, banyak juga manusia sepertimu. Mengulang dan juga menyanyikan gerakan lewat dentingan kaca, sobekan kertas, dan sebuah batu yang terlempar kencang.
Ke mukamu.
"Pyarrr..."
Satu per satu kepingan dirimu musnah. Tak tampak lagi bayangan diriku secara utuh di hadapan. Dari kepingan tubuhmu, seribu sosok muncul menggerayangi kaki dan juga separuh hasratku.
Sudah lama sepertinya aku lupa dimana kaki ini terpijak. Karena tanah buatku bermakna mewah, bukan sawah. Sementara, bayang mentari tertutupi oleh lembar-lembar kereta besi mewah berhiaskan emblem tiga palang.
Mereka membuatku malu. Aku seorang terpandang, bukan manusia jalanan.
Hidup selalu membuat orang mengaca pada siapa yang memegang kuasa.
Dan akulah sang adikuasa. Akulah pemegang jiwa seratus manusia.
Tapi di balik kehancuranmu, aku dibuat telanjang. Bugil, tanpa kesan penuh penghormatan.
Tak dibuat mengaca. Tak dibumbui lencana.
Comments
Post a Comment