"Simpel kelihatannya. Tapi dalam praktek, butuh tenaga ekstra. Dan beruntunglah bagi mereka yang sempat mengatakan kalimat di atas, lalu dapat merasakannya. Who can believe that happens? But the truth is, sometimes we'll find some people like that. They're the lucky one, and who will not jealous".
"Saya termasuk salah satu yang tidak percaya kepadanya. Faktanya, Thomas Alfa Edison saja sampai mengatakan, kesuksesan adalah 10 % Bakat, dan 90 % kerja keras. Dan tak lupa disertai tujuan yang pasti. Kehidupan di masa kecil yang mungkin tak seberuntung teman-teman, mengajarkan saya kerasnya kehidupan. Klasik terdengar saat cerita ini berlanjut, dan mungkin sudah ada yang bisa menebak apa saja isinya. Ayah saya meninggal, ibu menikah lagi, dan ayah tiri saya luar biasa kejamnya. Seperti sinetron".
"Boleh saya teruskan kisah anda?" Ucap si lawan bicara.
"Silahkan"
"Untuk sebuah kisah hidup layaknya sinetron, sepertinya perlu ada sedikit bumbu romansa. Anda jatuh cinta pada anak seorang kaya. Tapi sialnya, ia sudah memiliki seseorang yang dianggap pantas menjadi pasangannya, dan itu ditentukan oleh kedua orang tua. Boleh tahu kapan itu terjadi?"
"Umm...sebentar. Jadi kita sudah sampai ke konflik?"
"Sepertinya sinetron tidak mengenal waktu dimana konflik akan muncul kalau yang anda maksudkan konflik seperti sebuah cerpen panjang. Jadi boleh dibilang ya, untuk konflik yang pertama"
"Bagaimana kalau lebih kepada konflik keluarga. Saya lebih senang kalau romansa sesekali disingkirkan. Akan perlu terlalu banyak gombal murahan yang kelak keluar, dan saya sendiri termasuk orang yang lebih senang dengan guyonan cerdas daripada sekedar mengejar waktu demi sebuah makan malam dipinggir jalan bersama gadis pujaan"
"So English. Ternyata 20 tahun hidup di Inggris cukup mempengaruhi pola pikir anda"
"Hahaha...That's right. Meskipun hanya sebagai seorang tukang cuci restoran"
"Menarik. Apakah romansa kemudian kita jadikan sebagai kisah cinta bertepuk sebelah tangan? Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga anda sehingga kemudian kehidupan membawa ke negri sebrang?"
"Kenyataannya adalah, ayah saya masih memiliki darah bangsawan yang tak pernah ia ungkapkan, karena memang menikahi ibu saya berarti ia harus kehilangan banyak hal. Siapa yang rela ketika kemudian seorang ningrat memilih gadis pinggir kota, tanpa martabat. Ayah saya memilih lari memilih istri ketimbang hidup terkekang dengan aturan monarki kebanyakan. Itu terjadi di usianya saat ia menginjak dua puluh lima"
"Dan ibu anda tak tahu itu?"
"Tak heran jika kemudian ia memilih kawin lagi setelah ayah kandung saya mati"
"Baiklah. Sepertinya saya mulai mendapatkan sedikit gambaran, akan seperti hidup anda jadinya"
"Lalu apa judul buku anda berikutnya?"
"Panggung Sinetron"
Comments
Post a Comment