Ada gelisah juga perasaan resah
Dikala bimbang belenggu hatiku yang makin hitam
Tanpa jawaban atas sebuah pertanyaan
Dan kini kuragu karena kutaktahu akan arti malu
Pernah kulihat mentari di sebuah pagi
Berikan harap juga sebuah janji suci
Tuk menopang semua angan juga mimpi
Dan kini ia hilang di saat engkau pergi
Tak hanya sekali kuterjerat putus asa
Kehilangan teman juga seseorang yang kupercaya
Kemana mereka di saat ku nyaris mati
Mengapa tak ada ketika kumencoba bunuh diri
Mencoba tuk berdiri menggapai sesuatu yang pasti
Meski kutahu nyeri dada terasa semakin pilu
Tak ingin lagi kutenggelam dalam pekat malam
Meski tak tahu kemana takdir ku akhirnya menuju
Pernah ku pergi menghilang dalam sepi
Sekarat sejenak bermandikan pisau karat
Seribu malaikat berkata tak berharga ku mati
Berikan sebuah jalan tuk melangkah bertobat
Sekali lagi kubertanya pada seribu pendeta
Kemana kupergi ketika akhirnya ku mati
Bukan neraka atau surga yang kupinta
Sekedar jawaban untuk apa kuberdoa.
Mungkin kepala tak pernah berbicara
Pada manusia yang lupa pernah punya rasa
Dikala logika tak mampu jelaskan apa-apa
Disaat itu juga kubersujud dan mulai meminta
Padamu tuhan sesekali kupanjatkan
Sebuah keinginan dalam doa di saat ku tumbang
Seribu kali kuberdiri dan terus memaki
Mengapa inginku tak segera Engkau beri
Padamu tuhan sesekali kupanjatkan
Tanpa berharap kau kabulkan semua permintaan
Separuh langkah mungkin tak pantas buatku enggan
Di saat itulah kematian terasa melegakan
(rhyme it. Anybody?)
Comments
Post a Comment