Selama ini aku hanya bisa berputar. Mengembalikan apa yang pernah terlewati ke titik dimana ia berasal, dan kemudian memulai sebuah lingkaran yang baru. Namanya juga berputar, ia hanya akan terus berjalan dengan lintasan yang sama, sembari terus menatap pada satu titik penumpu. Terus seperti itu. Dan lingkaran ini akhirnya berhenti ketika titik itu hilang.
Berbeda dengan orang lain yang cenderung memilih jalur lurus di dalam hidupnya. Mereka bisa memilih untuk statis, mendaki, atau terus turun. Setidaknya mereka bisa melihat jauh ke depan. Menyaksikan setidaknya titik di ujung sana masih bisa tertangkap oleh mata. Sementara aku, cenderung melihat ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kukelabui. Mengelabui diri sendiri bahwa memang itu yang kucari.
Dan pada akhirnya, ada satu garis yang memaksa masuk ke dalam lingkaran. Awalnya hanya satu.
Kemudian garis itu bertambah. Kemudian lingkaran milikku terbagi. Dengan titik-titik berbeda. Terkadang keluarga. Ada Kalanya agama. Juga cita-cita.
Potongan-potongan itu kemudian memaksaku beradaptasi. Mencoba untuk tetap menyatukannya, sembari melompati batasan-batasan yang ada di antaranya. Cukup melelahkan, namun terasa nyaman.
Sayang, tak selamanya lingkaran itu tetap bisa disatukan. Masing-masing memiliki gaya gravitasi juga saling mendorong karena kutubnya berbeda. Satu potongan aku tinggalkan. Menyusul yang lainnya. Dan Di satu masa, semua lingkaran ini kehilangan titiknya.
Aku kemudian memilih untuk terus berputar. Sekedar melihat jejak-jejak yang tersisa. Entah coretan tembok, lembaran ekspresi kebahagiaan, juga resolusi ke depan. Hanya bisa berputar
Berbeda dengan orang lain yang cenderung memilih jalur lurus di dalam hidupnya. Mereka bisa memilih untuk statis, mendaki, atau terus turun. Setidaknya mereka bisa melihat jauh ke depan. Menyaksikan setidaknya titik di ujung sana masih bisa tertangkap oleh mata. Sementara aku, cenderung melihat ke sana kemari mencari sesuatu yang bisa kukelabui. Mengelabui diri sendiri bahwa memang itu yang kucari.
Dan pada akhirnya, ada satu garis yang memaksa masuk ke dalam lingkaran. Awalnya hanya satu.
Kemudian garis itu bertambah. Kemudian lingkaran milikku terbagi. Dengan titik-titik berbeda. Terkadang keluarga. Ada Kalanya agama. Juga cita-cita.
Potongan-potongan itu kemudian memaksaku beradaptasi. Mencoba untuk tetap menyatukannya, sembari melompati batasan-batasan yang ada di antaranya. Cukup melelahkan, namun terasa nyaman.
Sayang, tak selamanya lingkaran itu tetap bisa disatukan. Masing-masing memiliki gaya gravitasi juga saling mendorong karena kutubnya berbeda. Satu potongan aku tinggalkan. Menyusul yang lainnya. Dan Di satu masa, semua lingkaran ini kehilangan titiknya.
Aku kemudian memilih untuk terus berputar. Sekedar melihat jejak-jejak yang tersisa. Entah coretan tembok, lembaran ekspresi kebahagiaan, juga resolusi ke depan. Hanya bisa berputar
Comments
Post a Comment