Skip to main content

Jajanan Pasar


Setiap berjalan ke pasar, jajanan pasar selalu sukses membuat saya berhenti sejenak dan kemudian gatal buat merogoh kantong demi beberapa potong kue basah atau cemilan. Jenisnya yang beragam, harga yang terjangkau dan juga obrolan kecil bersama pedagang membuat saya betah dan tak pernah kapok untuk selalu melakukannya. 





Di Jogja sendiri, ada dua Pasar yang sering saya rekomendasikan untuk jajanan pasarnya. Pasar pertama adalah Pasar Demangan. Seorang senior memperkenalkannya ketika suatu hari saya meminta tolong buat mencarikan konsumsi buat sebuah acara. Posisinya tidak terlalu jauh dari Kampus UNY maupun UGM, tepat di pinggir jalan Gejayan. Letaknya yang tak jauh dari jalan ini juga yang kemudian sering menimbulkan kemacetan. Los yang menjual jajanan ini terletak di tengah-tengah pasar. Jika orang nggak ngerti, akan sedikit sulit menemukannya. 

Pasar lain yang saya rekomendasikan untuk mencari jajanan pasar adalah Pasar Kranggan. Berbeda dengan Pasar Demangan, mencari pedagang jajanan pasar relatif lebih mudah karena begitu masuk pasar dari depan, sudah bisa ditemui pedagang-pedagang jajanan beraneka ragam. Keaneka ragaman jenis jajanan pasar ini juga yang kemudian membuat teman saya, Eka menjadikannya objek penelitian PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Menjadikan jajanan pasar sebagai salah satu obyek tradisi Indonesia.

---
Kecintaan saya pada jajanan pasar ini mungkin terbentuk oleh mama saya. Beliau memang senang memasak dan membuat makanan ringan sendiri. Selain itu beliau juga kurang senang dengan jajanan ringan plastikan. Waktu kecil dulu sih saya kurang mengerti alasan mengapa beliau kerap melarang membeli jajanan yang dijual sembarangan di pinggir jalan. Kalau bisa, usahakan untuk tetap membawa bekal jika ke sekolah, begitu katanya. Baru di saat saya sedikit besar, saya mengerti. Jajanan pasar tidak banyak yang menggunakan bahan kimia. Berbeda dengan jajanan plastikan, terlalu banyak pengawet yang dimasukkan

Jajanan pasar memang sering terlihat kurang menarik. Terkesan dibuat seadanya dan dijual begitu saja di tempat yang mungkin membuat banyak orang ragu saat hendak membelinya. Tapi, saya yakin, keraguan itu akan hilang jika kemudian mulut ini sudah merasakan rasanya. Terlebih ketika harga tidak menimbulkan ketakutan jika ingin memuaskan keinginan.

Daya tarik lain dari jajanan pasar adalah setiap daerah memiliki jajanan pasarnya sendiri. Beberapa jenis jajanan pasar mungkin bisa ditemui di tempat lain karena kepopulerannya. Tetapi beberapa lainnya, sering hanya dijual dimana jajanan pasar tersebut berasal.

Sebagai contoh, di Jogja ini saya belum pernah menemukan orang yang menjual kue Bingke, jajanan pasar khas Kalimantan Barat. Saya juga jarang melihat orang menjual gatot, jajanan pasar berbahan baku singkong di tempat lain selain Jogja. Selain karena rasanya, jajanan pasar juga seringkali menjadi bagian dari upacara tradisi. Seperti gunungan apem di sekaten, kue keranjang di upacara imlek. 

Perbedaan selera, fungsi dan juga keahlian dalam membuat jajanan pasar inilah yang membuatnya menjadi sesuatu hal yang unik. Kesulitan untuk mendapatkan jajanan pasar dengan bentuk dan rasa yang sama ini membuat saya terkadang kangen sama satu daerah karenanya. Jajanan pasar menjadi salah satu identitas sekaligus keasyikan buat orang lain ketika berkunjung ke daerah lain dan ingin mencoba hal baru, tanpa harus menghabiskan banyak dana. Jajanan pasar juga membuat saya dengan beberapa teman menjadi dekat karena seringnya berburu kuliner murah ini sembari bertukar pengetahuan.








Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...