Begawan. Bukan bengawan. Kalau jaman sekarang, mereka berwujud profesor, alim ulama, pendeta, biarawan, guru dan pengkhotbah-pengkhotbah besar lainnya. Mereka yang menerima nasib hidupnya dengan sederhana, sembari merenungi kondisi tanpa melupakan hati nurani. Jujur. Tanpa ada yang mengatur.
Tak diatur bukan berarti seketika berantakan begitu saja. Di dalam ketidakteraturan ini suara-suara bawah sadar mereka diam-diam saling berbicara. Saling mengenal dalam pemikiran, bukan apa yang tersanding dalam badan. Kadang saling berteriak, tak jarang saling menepuk pundak.
Begawan selalu ada di setiap jaman. Menapakkan kaki pada tanah dalam akar rumputnya, menumbuhkan jiwa-jiwa lainnya dengan berbagai macam jenisnya. Mereka adalah tanah, dan berbuah. Ada yang baik, dan ada yang buruk. Tergantung pupuk seperti apa yang diterima oleh benih-benih suci ini.
Dan di setiap akhir cerita, buah dari benih ini kemudian mati. Ada yang kembali kepada asalnya, sang tanah, diserap, dan kemudian memberikan kehidupan bagi benih selanjutnya. Ada juga yang membesar, lalu membusuk pelan-pelan. Dan tanah tetaplah tanah.
Comments
Post a Comment