Awalnya adalah sebuah status facebook. Tentang bagaimana seorang bocah mengomentari sikap sebuah partai dalam sudut pandang pencitraan kenaikan tarif BBM. Bagaimana ia melihat bahwa jika memang benar bukan pencitraan, tak hanya berbicara yang dilakukan. Masih bisa bergerak dengan meminta menteri perwakilan partainya melakukan sesuatu. Alih-alih hanya jualan sapi.
Dilanjutkan dengan jualan daging lain. Masih di facebook. Satu fanpage dengan gambar profil gadis abg memamerkan buah dada yang tak seberapa. Beberapa pin bb dan status vulgar bertebaran. Tanpa kode. Hanya samaran nama, dan barang-barang lama sebagai pancingan.
Ada lagi anak gadis tanggung umurnya. Yang satu menggunakan bahasa indonesia termodifikasi. Mengalihkan emosi dengan bahasa vokal dalam bentuk tulisan. Bermanja-manja. Sayang, mukanya tak menarik perhatian. Tak heran ditinggal. Juga emak-emak kesepian. Atau memang aslinya biasa mampir di pasar kembang? Entahlah.
Yang jelas semua tak berubah. Hanya pindah tempat. Tak perlu lagi kehadiran fisik. Cukup membayangkan bagaimana biasanya di dunia nyata, lantas mengalihkannya di dunia maya.
Dilanjutkan dengan jualan daging lain. Masih di facebook. Satu fanpage dengan gambar profil gadis abg memamerkan buah dada yang tak seberapa. Beberapa pin bb dan status vulgar bertebaran. Tanpa kode. Hanya samaran nama, dan barang-barang lama sebagai pancingan.
Ada lagi anak gadis tanggung umurnya. Yang satu menggunakan bahasa indonesia termodifikasi. Mengalihkan emosi dengan bahasa vokal dalam bentuk tulisan. Bermanja-manja. Sayang, mukanya tak menarik perhatian. Tak heran ditinggal. Juga emak-emak kesepian. Atau memang aslinya biasa mampir di pasar kembang? Entahlah.
Comments
Post a Comment