Skip to main content

dulu gua juga maba


Sebentar lagi kampus bakalan ditambahin mahasiswa-mahasiswa baru. Jadi inget diri sendiri pas dulu mau masuk kuliah. Habis UAS langsung ke Jawa buat ikutan bimbel di NF. Berangkatnya maDefo. Gua nggak tahu entar SPMB tu gimana, jadinya ngmabil les IPC. Pagi IPA, sorenya IPS. Malem ? ambruk. Di minggu pertama bimbel, ambruk. Ketemu ma makhluk ajaib yang namanya bambang. Cocok banget ma gua. Sama-sama anak jauh. Ketemu lagi ma agnes. Anak transfer dari Jakarta. Bersama kita berjuang buat mencapai target kita. Buat spmb IPS, nilai gua aman-aman aja. Di IPA, standard.
Akhirnya, SPMB. Biz tu gua langsung mudik Ma Defi lagi. Di kapal ketemu ma Henny. Katanya ikutan SPMB di Semarang. Dua mingggu dihabisin di rumah. Trus malem-malem tanggal 2 Agustus 2007 kalo ga salah, gua lihat nama gua di Layar warnet komputer. 10.000 buat tiga jam. Siang-siang udah mesen tempat. Dasar warnet baru. Hebatnya, dari sekian banyak anak yang OL malem itu yang ketrima Cuma gua. Padahal yang lain spmbnya di propinsi. Gua ma Defi yang SPMBnya di jawa. Henny sendiri ga ketrima. Defi di UNNES, tapi akhirnya ngambil matematika UAD. Henny ngambil Biologi UAD. Sabtunya langsung cabut buat registrasi. Dan kampus baru gua sambut.
Tapi dasarnya manusia kali ya yang nggak pernah puas. Perjuangan selama 12 tahun harus gua selesaiin

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...