Sudah jam 10 lebih 20 menit waktu aku terbangun malam ini. Setelah rapat Komunitas Jogja Je, aku memang sempat baring-baring di Kamar Belakang Sekretariat Yayasan yang menaungi komunitas ini.
Hari ini aku benar-benar capek. Tapi dibilang capek banget juga nggak. Maklum, hari ini dapat kerjaan yang nggak berat-berat amat. Cuma duduk dan bercuap-cuap selama 5 jam. Menjaga stand informasi beasiswa untuk mahasiswa baru yang herregistrasi UM UGM. Aku dapat jatah buat jaga tanggal 21 dan 23. Dapetnya shift siang.
Begitu bangun, aku langsung cek hp. Ada 4 sms masuk. Salah satunya dari teman baikku sejak SMA. Ia memberitahu kalau sudah ada di Kontrakan. beberapa jam sebelumnya ia memang sudah bilang akan menginap. Segera aku bangkit dan menuju garasi. Di ruang depan sempat basa-basi sebentar dan berpamitan dengan beberapa senior. Aku beralasan mau mengerjakan tugas saat mereka bertanya kenapa tidak menginap saja.
Sesampai di kontrakan, ia menanyakan Aris, teman SMA kami yang lain. Biasanya kalau ia berkunjung ke Jogja, kami bertiga akan berkumpul dan menghabiskan waktu di tempat-tepat yang enak buat nongkrong. Kali Code, Raminten, T'nong, juga Alun-alun selatan beberapa kali kami sambangi bersama. Tapi tidak untuk malam ini. Aris sebelumnya memberitahu kalau keesokan harinya ia harus mengumpulkan laporan praktkum. Kami berdua maklum.
Jadilah kami berdua akhirnya pergi menyusuri jalanan Jogja sambil menenteng gitar. Aku menyarankan untuk nongkrong di Bundaran UGM. Seingatku, jam segitu masih ada orang-orang berjualan. Biasanya jualan ronde. Kalau nggak ada angkringan juga. Jadi bisa sekalian mengganjal perut dengan beberapa bungkus nasi kucing.
Sesampainya di sana, ternyata cuma tersisa satu gerobak angkringan dan satu gerobak Ronde. Makanan yang ada di angkringan juga sudah tandas. Kamu akhirnya memesan dua gelas kopi. Encer dan terlalu manis. Tidak seperti kopi Jawa timuran dan Luar Jawa yang biasanya sangat keras dan cukup untuk mengganjal mata.
Iseng-iseng aku memainkan gitar. Tidak sungkan karena malam sudah larut. Tidak ada pengamen. Orang yang nongkrong juga tidak terlalu ramai. temanku sendiri asyik mendengarkan lagu dari Hpnya. Kami berdua hanya diam dan memandangi jalanan. Cuma ada beberapa kendaraan yang melintas.
Belum lama kami duduk, Bapak-bapak penjual angkringan tampak sibuk membereskan dagangannya. Kami pun segera menghabiskan minuman dan kemudian membayarnya. Sempat kebingungan sebentar, lalu mengajaknya pindah ke tempat lain di, masih di sekitar Bundaran UGM.
Ia lalu mulai bercerita. Tentang pencalonannya sebagai presiden Bem II di kampusnya. Tentang usahanya. Juga tentang cinta. Masing-masing mempunyai durasi yang berbeda. Ekspresi yang berbeda. Terus mengalir, dan kemudian sejenak berhenti.
Akupun mencoba membalas kata demi kata. Sedikit mengenang kegilaan kami saat SMA di Organisasi Pencinta Alam dan kemudian membandingkan dengan pengalamannya. Sedikit memberikan saran. Bukan sekedar mencoba menyenangkan hati, tapi benar-benar membuatnya mengerti. Inilah hidup.
Berdialog dalam malam yang dingin dan perut kosong membuat kami lapar. Kami akhirnya memutuskan pulang dan sedikit mengisi perut di Burjo langgananku. Sampai sana, cerita masih berlanjut. Tentang dilema cintanya, juga realitas hidup yang mulai tegak berdiri di depan mata. Sudah 22 tahun kami hidup di dunia. Sudah banyak belajar, tapi selalu saja ada yang tertinggal dan tak terjawab oleh memori di dalam kepala masing-masing.
Malam mulai berganti dinihari. satu persatu lagu yang kuingat chordnya juga sudah dimainkan. Sempat juga mencuci mata ketika ada 2 pasangan datang. Melihat mulusnya paha seorang wanita yang hanya mengenakan hotpants dan juga sabrina. Kami akan tetap bertahan seandainya saja tidak ada pertandingan bola malam ini.
Comments
Post a Comment