Skip to main content

Malam membuatku gila


Malam seringkali membuatku merasakan gejolak yang amat besar di kepala. Saat dimana seharusnya manusia mulai membenamkan pikiran dalam mimpi, aku justru membuatnya seolah membara. Membakar habis semua ketenangan yang sudah tersimpan di hati. Kemudian mengacak-acaknya tanpa ampun.Tak kuat rasanya hati ini melakukan hal itu. Sampai kemudian tubuhu bergetar hebat, dan akhirnya tumbang.

Isi kepalaku berserakan di atas lantai. Bukan merah, bukan. Syukurnya bukan otak penuh urat yang terhampar. Satu-satu kuteliti. Sayang, aku tak bisa mendiskripsikan dengan jelas apa itu semua. Tak pernah sekalipun kulihat benda serupa dengan isi kepalaku. Semuanya buram, menggeliat. Kucoba memicingkan mata perlahan. Tetap saja tak jelas.

"Anda lupa mengenakan kacamata saudara"

"Hah, iya. Mana tadi kacamata saya?"

Sebuah tangan mengulurkan kacamata bulat bertangkai gading. Warna kacanya berubah-ubah. dari merah, menjadi kuning, kemudian hijau. Pelangi, benar, seperti pelangi. Perlahan kusangkutkan ujung tangkainya ke telingaku. Perlahan-lahan mataku bisa melihat dengan jelas apa sebenarnya isi kepalaku.

"Jadi, bisakah sekarang saudara terangkan apa isi kepala anda?"

"Yah, seperti yang sudah saya kira, ternyata isi kepala saya tak berwujud apa-apa. Kopong kalau kata orang jawa. Tak ada isinya"

"Hah? Tidak mungkin!

"Tidak mungkin bagaimana?! Yang punya kepala saya kok malah anda yang menyangkal kata-kata saya! saya ulang sekali lagi ya! ISI KEPALA SAYA ITU KOSONG!"

"Sialan! padahal saya sudah mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan isi kepala anda! Seumur hidup saya menantikan saat dimana akhirnya orang-orang menatap kagum pada harta yang tidak akan pernah dimiliki orang lain"

Aku kaget. Benar-benar kaget. Tanpa aku ketahui isi kepalaku sudah jadi barang yang diperjual belikan. Aku sendiri tidak tahu kalau akan ada orang yang mau membeli isi kepalaku. Isi kepala seorang...

"Maaf, kalau begitu, boleh saya pinjam kacamata anda?"

Aneh. Dia yang memberikan. Dia sendiri yang meminta. Sadar kalau tadi ia yang membawa kacamataku, kuserahkan saja kacama pelangi milikku.

"Silahkan"

Cepat-cepat ia kenakan kacamata itu. Hebat, kaamata yang semula berwarna pelangi, berubah menjadi putih bersinar, layaknya lampu di tengah malam. Perlahan-lahan, cahaya itu menyebar ke seluruh tubuhnya. Terus seperti itu, sampai cahaya itu semakin terang dan terang.

Lalu lenyap tanpa bekas

Seperti biasa, kumasukkan lagi isi kepalaku ke dalam tempatnya. Kacamata pelangiku pun hadir di hadapanku. Kuambil, dan kumasukkan ke dalam saku bajuku.

Di depanku, ada sesosok tubuh jatuh. Isi kepalanya berserakan di atas lantai.

Kacamata pelangi keluar dari tempatnya. Dan kuulurkan pada orang tersebut

"Anda lupa mengenakan kacamata saudara"

Comments

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...