Simbol positif dan negative seakan menjadi bagian dari setiap disiplin ilmu. Matematika, fisika, kimia, bahkan dalam disiplin ilmu sosio humaniora dan justisia. Dua kutub berlawanan ini menjadikan semuanya terlihat dalam dua sisi. Karena manusia pada dasarnya memang selalu memiliki 2 sisi, positif dan negatif.
Nggak jarang kita ketemu manusia dengan tingkat positif yang lebih atau justru malah sisi negatifnya yang lebih. Menyenangkan, tenang dan ceria. Pemurung, suram, dan menyebalkan. Memang kita nggak pernah tahu apa yang ada di dalam diri setiap orang. Tapi setidaknya, semua manusia punya satu konvensi untuk menentukan apakah ia positif negative.
Banyak yang bilang, menjadi positif itu penting. Dan memang itu tidak mudah. Ketika dunia hadir dalam seribu masalah, dan sedikit yang bertahan demi sebuah harapan.
Apakah yang sebenarnya terjadi?
Mungkin kalimat itu akan sering keluar ketika melihat orang lain mampu memanajemen kepribadiannya sehingga masa depan seakan terlihat cerah. Bagaimana seorang dengan sejuta masalah dan pekerjaan dalam hidupnya masih bisa tersenyum lebar sementara yang lainnya cenderung menakutkan karena aura negatif yang dimilikinya mampu mendominasi sebuah area tempat berkumpul.
Kalau dimisalkan, hidup ini seperti sekolah. school of life. Seperti layaknya sekolah biasa, sekolah kehidupan juga memiliki sistem administrasi yang tidak jauh berbeda. ada tempat belajar, guru, mata pelajaran dan juga ujian. Semuanya akan menghasilkan kepribadian yang baik saat semua bisa terpenuhi. Tidak akan sama memang antara yang satu dengan lainnya. banyak yang bilang, sang Maha Pemegang Kurikulum punya aturan sendiri dalam menentukan alur hidup makhluknya. Tak teridentifikasi dan berjalan begitu saja.
Disini seakan faktor kebetulan seakan sangat mendominasi. Padahal sebenarnya tidak. Masing-masing memiliki hak untuk dapat merencanakan masa depannya. Bagaimana ia mampu berusaha sekuat tenaga, meski akhirnya memang sang Maha yang menentukan hasilnya. Tuhan nggak akan pernah memberikan ujian yang tidak akan sanggup dipegang oleh hambanya. Tuhan punya cara menilai sendiri ketika akan menaikkan taraf kehidupan seseorang
Seakan bahwa manusia dipermainkan bukan? Dan akhirnya banyak yang berteriak Tuhan itu nggak adil ketika akhirnya mereka jatuh dan terpuruk. Menjadi apatis pada dunia dan meliat seakan semuanya hitam dan putih. Nggak ada warna lain.
Orang-orang seperti itu adalah orang yang gagal menjalani apa yang dikatakan sebagai ujian hidup. Padahal, kalau mereka mau mengubah setidaknya 3 hal dalam diri mereka saat ujian diberikan, mereka akan dengan lancar bisa menyelesaikannya. 3 hal yang sangat sederhana namun akan sangat sulit dijalani.
Hal pertama yang harus dilakukan saat ujian datang adalah, tidak menggunakan jarimu untuk menunjuk dan menyalahkan orang lain. terkadang dalam hidup, tanpa kita sadari, jari ini akan lebih mudah tertuju pada orang lain. masalah nggak akan selesai jika akhirnya saling tunjuk satu sama lain. padahal bisa jadi diri sendiri yang menjadi penyebabnya. Kita tidak diminta untuk akhirnya menyalahkan diri terus menerus. Lihat masalah secara menyeluruh dan evaluasi apa yang sebenarnya terjadi. Fokuskan diri pada penyelesaian, bukan terus-terusan menkambing hitamkan orang lain.
Kedua, bersihkan hati kita dari penyakit hati. Penyakit hati hanya akan membuat hati manusia terlihat hitam dan berbau busuk. Ibarat perang, hati itu adalah panglima bagi setiap individu. Hitam dan busuknya hati membuat manusia kesulitan saat harus membuat keputusan-keputusan penting dalam hidup. Hati yang hitam cenderung membuat diri tida mampu melihat secara objektif. Menjadikan masalah semakin banyak karena kekhawatiran, keragu-raguan dan ketakutan hadir.
Dan terakhir, kerelaan. Di saat kita gagal dan akhirnya harus kehilangan sesuatu saat kita berjuang untuk mendapatkan yang kita inginkan, kerelaan sangat diperlukan. Bagaimana akhirnya kita mau melupakan dan membuang hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidup dan akhirnya maju ke depan tanpa harus melihat ke belakang. bagaimana kita mampu melihat sebuah kegagalan sebagai keberhasilan yang tertunda dan kemudian mengevaluasinya agar kita tidak terjebak pada kesalahan yang sama.
Itu saja. Tiga hal yang sangat sederhana, tapi sebenarnya tidak mudah menjalaninya. Diperlukan waktu dan pengalaman yang cukup lama agar ada bekal dalam menghadapinya. Dan tak lupa, perbaiki hubungan dengan yang di atas. Yang di atas itulah yang member ujian pada kita. Jika kita dekat padaNya, maka akan banyak petunjuk dan pertongan hadir di depan kita.
Comments
Post a Comment