Skip to main content

Akhirnya, MLP

Yeah, akhirnya kesampaian juga nonton Musikal Laskar Pelangi. Diam-diam, ekspektasi saya yang cukup tinggi pada adaptasi Novel Andrea Hirata ini akhirnya terlunasi. Sebelumnya, saya ga mau memasang harapan tinggi-tinggi dari Drama Musikal ini. Sekian tahun mengikuti tulisan Andrea Hirata, sejujurnya saya bosan. Ia tidak banyak beranjak untuk menulis selain dari kehidupan pribadinya. Memang apa yang ia tuliskan menghadirkan nuansa baru pada novel-novel di rak toko buku. Kehidupan, bahasa, dan juga celetukan kehidupan akar rumput di Belitong sana. Apalagi jika kemudian, Laskar Pelangi seolah menjadi one hit maker. Satu terbitan bagus dari tulisan Andrea Hirata, setelah itu sudah. Jujur aja sih, habis Laskar Pelangi, novel lainnya belum sebaik nasibnya dengan sang pendahulu. Pendapat itu juga mungkin dikarenakan saya sering membaca karya novelis yang senang berganti tema, tapi tetap terasa nuansa penjiwaannya. Simpel, sederhana, tapi mengena. Kalau detilnya karya siapa, itu Dee. Di belakangnya ada Tere Liye.

Oke, lupakan celetukan saya sebelumnya. Itu komentar saya tentang Andrea, bukan karyanya. Overall, Drama Musikal yang sebelumnya sudah sempar mampir di beberapa kota besar Indonesia (bahkan Singapura kalau ga salah) ini pantas diacungi Jempol 6. 4 Jempol lainnya saya pinjam dari 2 orang teman yang menemani nonton, Mega dan Dewi. Tangan dingin Mira Lesmana, Riri Riza dan juga Erwin Gutawa ga bisa dianggap main-main. Terlihat sekali mereka sangat perfeksionis, sampai-sampai jadwal pementasan drama musikal digeser satu hari.
6 Jempol Man!!!

Perfeksionisnya mereka juga terlihat dalam manajemen penonton. Memang sebelum acara mulai sempat antri masuk panjang. Tapi penantian tersebut terbayar lunas. Manajemen tak hanya memperhatikan bagaimana pertunjukan bisa terlihat bagus, tapi juga bagaimana penonton mampu menikmatinya dengan sempurna. Ini bukan jilatan, karena saya dan dua orang teman lainnya kebetulan hanya mampu membayar kelas paling bawah (silver) dan kami tidak dianaktirikan.
Antriannya dua lajur yaaa...

Minus ga bisa lihat mimik muka pemerannya, kami dapat menikmati pertunjukan secara utuh. Kalau saya pribadi, cukup ternganga melihat permainan tata panggung dan imajinasi sang penata gerak, dan merinding mendengar musik pengiringnya. Semuanya tidak berdiri secara terpisah. Menyatu. Meski di Babak pertama pementasan saya sedikit tegang karena masih mencari posisi nyaman karena terhalang penonton di depan saya, di babak kedua ketegangan itu kemudian akhirnya hilang. Semua penonton seolah sadar diri dan mau saling berbagi. Maka tak heran, di akhir acara, Standing Applaus membahana. Kami benar-benar puas!!!

Kecapekan Nunggu

Dewi

Mendadak Akrab 

Girangnya Mega Kelihatan

Errr...hahhaa

Oleh-oleh

Nekad mendekat ke panggung

Sok cool


ps: Saking konsennya pas nonton, kami ga sempet foto adegan (Ngeles)

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Oportunis

Ngerti artinya oportunis? Kalo kita buka kamus Merriam Webster, dikatakan oportunis itu... "seseorang yang memanfaatkan kesempatan tanpa terlalu mengindahkan prinsip dan konsekuensi" Yah,  kurang lebih saya juga berfikir hal yang sama. Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah buku. Penulisnya Albert Mensah. Judulnya? Cari sendiri   Ia mengatakan hal lain mengenai oportunis... "Seseorang yang tahu bahwa ada banyak kesempatan di mana-mana untuk membuat impiannya menjadi kenyataan" Dua definisi tersebut berasal dari kata yang sama. Tapi kesan yang diberikan mampu membuat orang yang membacanya menjadi orang yang berbeda. Begitulah... " Semua orang bisa melihat, tapi berapa yang memperhatikan"  "Masalah bagi satu orang, bisa jadi adalah kesempatan" Jujur, saya aslinya ga terlalu suka dengan motivator. Tak jarang, untuk menjadi positif, orang dengan hati-hati memilih untuk tidak memasuki ruang gelap hati manusia yang memungkinkan m...

Rough Report Pasar Percontohan Cokro Kembang Klaten

Pasar Cokro Kembang merupakan salah satu pasar tradisional di Jawa Tengah yang menjadi proyek percontohan dari Kementrian Perdagangan. Diresmikan pada tanggal 12 Januari 2012, Cokro Kembang diarahkan menjadi salah satu pasar wisata ke depannya. Tidak jauh dari Pasar tersebut, terdapat sebuah pemandian yang cukup terkenal di Klaten, yaitu Pemandian Cokrotulung. Berada di Desa Daleman, Cokro Kembang dapat dicapai dengan menggunakan angkuta dari kota Kecamatan Delanggu, atau dengan kendaraan pribadi lewat jalur Klaten Boyolali. Kondisi pasar sendiri sebenarnya cukup bersih, apik dan tertata rapi. Hanya saja, pedagang dan pengelola di sana relatif pasif dalam pengelolaannya. Mereka seolah hanya menjalankan apa yang diinstruksikan oleh pemerintah. Hal ini kemudian membuat keadaan pasar relative stagnan dan tidak banyak perubahan. Terlihat dari kondisi tempat parkir yang kurang tertata. Tidak ada parkir khusus mobil, sehingga mau tak mau harus diparkir di jalur perlintasan pasar. Padahal jal...

Beda sisi sama-sama basi

Okeh, kita tahu kalau logo di atas itu logonya komunis. Palu arit. Apakah kemudian saya mendukung komunisme dengan mencantumkan logo tersebut di blog? Sampai hari ini saya belum tahu. Sejujurnya saya sendiri mulai apatis dengan segala bentuk ideologi yang dibicarakan. Camkan, IDEOLOGI YANG DIBICARAKAN. Saya sendiri tidak buta, tentang bagaimana isu komunisme, dan kejadian mbah saya sendiri yang hampir menjadi korban pembantaian, dan di sisi lain, ada orang-orang yang ternyata menjadikan momentum 65 sebagai pintu meraih keuntungan. Bisa dilihat bagaimana kemudian di film Jagal ( Act of Killing)  premanisme seakan dilegalkan diam-diam. Mengapa sampai sekarang saya mencari jalan tengah? Kalau disimak, ideologi seringkali sekedar berhenti di warung kopi. Cukup sampai di situ. Saya belum banyak melihat bagaimana kemudian sistem mengijinkan orang-orang dengan frontal hidup sesuai idealismenya. Di Indonesia sendiri, komunisme membuat banyak orang buta terhadap perbedaan ...